Takdir Sepuluh Maret

Debu jalanan tak jemu menyapu degupku, sebuah tepisan masa lalu berlalu membiarkan diri berjaya menghadang panasnya jaman, dan kekuatan diri begitu terasa membahana sehingga takluklah segala halangan, tak ada yang tersisa di depan semua tertinggalkan di belakang.

Kecuali satu, takdir.

Ketika takdir memilihmu untuk menjadi bagian dari sebuah peristiwa, maka kadang engkau tak sanggup mengelak, bukan karena engkau tak berhak, tapi Dia telah menuliskannya : lembaran telah kering dan pena telah diangkat.

Seperti halnya Senin siang itu, di hari kesepuluh bulan Maret aku melaju membawa ragaku menuju keluargaku. Dari tempat start yang sayup-sayup di balik gundukan hijau itu aku memastikan kecepatanku normal atau di atas rata-rata. Tidak ada yang berbeda dari keseharian semua nampak sama, lalu lalang kendaraan, jalanan berkelok lalu naik turun, dan udara lepas tengah siang yang terlampau hangat.

Sampailah aku di titik takdir yang berbeda dari biasanya, kini ada yang spesial, tidak hanya mendahului kendaraan lain, tapi mendahului  kendaraan lain dan tersenggol , sebuah kombinasi yang pas yang disebut kecelakaan. Aku tersungkur,  dua gigiku rompal, lutut kiri dan siku tangan kiriku terluka.

Semua berjalan cepat bahkan sangat cepat, aku tak mampu menghindari gerakan mobil yang geser kanan mendadak seperti itu, dan takdir itu terjadi.

Alhamdulillah, kupikir ini seperti saat aku terjatuh sebelumnya,  tidak akan terlalu parah, tapi sang sopir yang menyerempetku menawariku untuk diantar ke rumah sakit, aku sudah akan menolak, ah langsung pulang saja, tapi orang lain bilang ” iya mas, rumah sakitnya cuma dekat kok, nanti biar motornya ditinggal di sini saja dulu, aman” dan akhirnya aku menyetujuinya.

Kurang dari sepuluh menit akhirnya sampai ke rumah sakit terdekat, di gawat darurat perawatnya bilang “sikunya bengkak mas, di sini bisa rontgen tapi tindak lanjutnya belum bisa, mending langsung ke rumah sakit daerah saja“…

Rontgen??

Aku kembali dibawa dan beberapa saat kemudian sampailah ke gawat darurat rumah sakit daerah, ruang itu luas dan banyak orang lalu lalang, beberapa bed tertata dan petugas medis bergerak kesana kemari, aku didaftarkan, diberi obat merah, lalu menunggu rontgen. Beberapa saat kemudian giliranku tiba untuk masuk ke ruang radiologi itu. Dua kali pose siku tangan kiriku akhirnya jadilah hasilnya. Petugasnya bilang “ini harus operasi mas, jangan dipijat ya!

Saya jawab : ” ya!
Dokter jaganya bilang : ” besok pagi kembali ke poli ortopedi ya pak
Saya sahut : “ya dok, terimakasih

Operasi! Ini benar-benar situasi yang baru bagiku. Ya sudahlah aku akan menjalaninya saja, seperti awal hari ini, lalu kejadian di lepas tengah harinya lalu hasil rontgen ini, semua adalah rangkaian takdirNya yang telah ditetapkan, tidak ada yang perlu disesalkan, disalahkan, atau dikeluhkan.

Di ujung senja itu semua meluruh semu, sebuah takdir bisa merubah dalam sekejap rutinitas menjadi edisi spesial, dan kutapaki awal episode baru ini dengan damai hati, biarlah mengalir saja.

Satu pemikiran pada “Takdir Sepuluh Maret

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s