Malam Antara Surga dan Neraka

Jemari mengatup, dingin membawa kehangatan pergi dengan cepat, tinggalkan seonggok kelu. Bulan muram gundah di bentang malam, sementara bintang terkantuk antara berjaga atau lelap saja. Jangkrik berbisik pelan lalu diam. Satu yang berpijar hanya lampu teplok di balik dinding bambu reot itu, cahaya redupnya menari bergoyang-goyang menerima belaian angin semilir yang menembus anyaman ingis yang tak rapat. Pelita di malam yang gelap dan dingin itu menerangi wanita tua yang bersujud khusuk pada Sang Pencipta. Sajadah tergelar dan rangkaian doa dipanjatkan, sesekali diseling suara terisak dan kilau bening menetes di pipimya yang keriput. Ada resah dan harap yang tersampaikan. Ada keyakinan dan kepasrahan yang digantungkannya ke langit menunggu jawab.

Di detik yang sama, di sisi lain peraduan malam itu, sebuah pesta sedang digelar, pria wanita bercampur, berjoget, bercanda ria, botol-botol minuman memabukkan disajikan, musik berderap, lampu bersinar menyala dan menyambar dalam aneka warna memuntahkan segala kesenangan dan membuang hening ke sudut gelap. Tak ada dingin yang merayap semua panas membakar-bakar, menutup segala masalah kehidupan dan menenggelamkan diri dalam kenikmatan yang membawa jiwa melayang-layang.

Seandainya malam itu, di detik itu, waktu bagi diri telah berhenti serangkai kisah akhir akan dicatatkan, dan daftar penerima kenikmatan dan siksa akan diumumkan, tinggal menunggu saja, pelan bahkan mungkin sangat pelan namun pasti, semua itu akan menjadi nyata.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s