Inilah Aku : Sang Pendosa!

“Sistem membuat kita (terpaksa) menghilangkan akal sehat kita, ketika akal sehat sudah tidak ada, maka tidak akan muncul ahlak, ketika ahlak tidak ada maka kita tak akan perduli dengan benar dan salah”*)

Kembali aku terpekur, sejenak melempar masa ke peraduan bintang-bintang dan mengeluarkan di telapak tangan ini hati yang jujur. Jujur tentang apa? jujur tentang diri sendiri, tentang kehidupan yang berlaku dan memberiku kesempatan untuk terus dijalani.

Ketika teman datang dalam satu kalimat, aku terdampar dalam ironi diri yang baru terlewat, satu masa yang ingin kulupakan tapi tidak pernah bisa pergi. Satu episode yang ingin ku lepas saja dan kubenamkan dalam rawa masa lalu, tapi ia tertaut erat di kaki-kakiku membelitku hingga tertatih. Seperti ingin memberi tanda pada diri “inilah aku : sang pendosa!”

Terasa masih lekat masa-masa merayakan kegembiraan dengan cintaNya yang tersentuh dekat dan mendekat, berselubung keinginan dan niat untuk mencari kehakikian hidup dan menjalani lapang dan terjalnya tapak-tapak untuk lajukan kisahku. Namun takdir membungkamku cepat, apa yang pernah kuhindari kini harus kumakan mentah-mentah, topeng yang kukenakan bulat merapat pada wajah kini terkuak sempurna, seringai taring dan tanduk dari neraka berjubel dalam sepotong tengkorak purba yang makin beruban. Jeruji dunia memenjarakan pandangku, dekat dan murah bahkan gratis! untuk setiap jejak yang kutuai dalam linglung di penggalan hari yang hampir senja.

“Cukup!”

Teriakku nyaring digema parau para pengikut. Tak berdaya tak wujud selain derit kecil yang ragu. Resah namun pasrah, gelisah tak cukup berulah selain menunjukkan wajah susah dan bersalah. Vonis mengguntur bergelegar menyambar-nyambar terdengar pecah-pecah membentur tiang pengadilan yang tak menyangga selain langit mahsyar yang kukuh. Parahnya : aku hanya pasrah, bersikukuh melawan arogansi sistem yang angkuh, tak lebih dari sepenggal anggukan dan anggukan, sambil senyum kemunafikan menghias wajah tanpa rasa malu.

apakah sistem yang “memaksaku” bisa menjadi hujjahku dihadapanNya nanti?

*) pesan singkat sahabat seperjuangan yang masuk ke handset ku pada jam 20.45 bersambung jam 20.47 hari ini.

6 pemikiran pada “Inilah Aku : Sang Pendosa!

  1. jangan menyerah pada sistem. ikutlah sistem atau aturan Allah karena memang Dia Sang Pemberi. maka kita akan jadi orang yang bebas bahkan free from fear

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s