Puasa Hari Ketiga : Mati Tertawa

Mulutku berpacu dengan lengkingan kuda lebih ribut dari pasar bebek dan menyebalkan seperti kambing tidak mandi satu tahun, seonggok daging tua berpeluh mulai berteriak dan tertawa, sepertinya hari ini bukan bulan puasa, banyak berbicara yang tak perlu, tertawa dan melucu. Jadi pelawak saja sana!… . Memang godaan untuk menjadi pemantik orang ketawa begitu menggiurkan, kalau bisa membuat mereka tertawa apalagi sampai terpingkal-pingkal kalau perlu nungging-nungging, seperti telah menggapai kesuksesan, meskipun sang pelawak tidak ikut tertawa kecuali senyum kecut dan sinis tersembunyi melihat korbannya bergelimpangan.

Puasa mestinya termasuk itu, membatasi berbicara yang tak perlu dan mengurangi lelucon dan tertawa, cukuplah senyum simpul didaratkan ke wajah-wajah disekitarnya. Bukan malah menjadi-jadi dengan sengaja menyeret lingkungan ke lembah komedi yang tak bertepi, tertawa dan tertawa, seakan-akan hisab tidak akan pernah datang. Hisab? ya.. ingatlah hari dimana setiap amalmu akan dihisab, ingatlah ketika tiada lagi orang tertawa karena kengeriannya, astaghfirullahaladzim…

Banyak tertawa mematikan hati, banyak omong menjadi sumber kesalahan, mudah berdusta dan melakukan fitnah hanya agar orang tertawa.

Hindarilah wahai diri…

Cukup sekali lalu sesali, esok hari jangan diulang lagi, karena mati bisa menghampiri saat diri tak sadari kapan nafas terhenti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s