Puasa Hari Pertama : Kamuflase Ketaatan

Bangun di himpitan waktu pagi yang meluruh menuju shubuh, terseok dalam khayal sang master imajinasi : apakah hari ini akan sempurna?

Belum mampu kututup mulutku untuk hal yang tak perlu, berpaling dari hal yang bukan menjadi urusanku dan melaju menuju senja dengan sedikit amunisi nafsu, berharap akan buka yang sempurna, kedamaian penjagaan dalam puasa mestinya memang total, bukan bagian-bagian yang mudah dan terlihat saja. Namun godaan untuk berkomentar yang tak perlu masih merajai bagian hari itu, emosi yang meletup di ubun-ubun siap dilontarkan, atau sapuan pandangan pada sesuatu yang mestinya kutundukkan.

Rabb… jika bukan penjagaanMu, aku adalah kesia-sian belaka

Biru hari terpanggang dibawah mentari yang gagah merajai cakrawala, hati yang menunduk dipaksakan tak patuh pada aturan berlenggak lenggok melintas di biru itu, meloncat ke kawasan aman “puasa” dan menjadi angkuh dalam kerapuhan tersembunyi. Makan minum yang terhindar di hari itu menjadi alasan sahnya sebuah ritual, tidak bercabang sampai ke hati dan tidak tersekat indra pada makna puasa yang sesungguhnya. Hilang hakikat dalam kamuflase ketaatan, sementara perjuangan masih menjadi jalan panjang yang mesti tertempuh, mau tidak mau.

puasa hari pertama, harus menjadi cambuk ke hari-hari yang lebih lurus di bulan ini, dan bulan-bulan selanjutnya. Karena Dia menilai akhir dari ketakwaan bukan yang lainnya..

Rabb… jalankan aku di ramadanMu dengan sungguh-sungguh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s