Menghidupkan Kembali Hati yang Mati

surga-neraka-2 Aku bergerak di semenanjung harapan yang teronggok masgul diujung daratan, buah mimpi yang tergeletak mengurai kusut jalinan langkah yang tertempuh.
Kesadaran dari ilusi panjang terasa menyeretku menjauh dari pusaran cinta sang Penguasa, rasanya : tidak ada lagi gemercik embun membasahi pipi ini selama masa-masaku kini, era ketundukan itu telah lewat, berlalu seperti hembusan angin dipadang gersang, membawa tiap tetes terakhirnya menuju ketiadaan …
Apakah aku telah mengukir cintaNya dalam hatiku dan menjadikannya monumen yang mengekal dalam hidupku?
Apakah aku telah menanam syariatNya dalam tiap lahan perjalananku dan menumbuhkannya menjadi hamparan hijau ketaatan tanpa satupun hama dosa sanggup hinggap merugikannya?
Apakah aku telah mendapatkan semua yang aku inginkan melalui do’a-do’aku dan menjadikannya sebuah keberuntungan yang terwujud tanpa satupun meleset dari perkiraan hingga tak ada lagi kekhawatiran antara aku dengan Tuhanku?
Sungguh kurang ajar! : konspirasi mahluk dan hawa nafsunya telah menjadikannya pembantah yang nyata, mengikuti keinginan melebihi kebutuhan, memasuki dimensi keterbebasan dalam syariat yang menuntut pertanggungjawaban..
Akal licikkah ini? sebuah trik berbelok dari jalan yang lurus untuk sebuah rihlah jiwa dalam lembah ketidaktaatan…
Memalukan…kepalsuan besar dibungkus kemasan paling elegan, drama topeng diatas panggung sandiwara melakonkan kisah kemalasan dan kesia-siaan dan berharap happy ending..
Realitas semu di altar kepalsuan para penyembah hawa nafsu, tak lebih sebuah onggokan daging busuk menunggu dilempar ke mulut srigala.
Ketercapaian seperti prestasi di puncak tertinggi, berbangga diri membusung dada sepanjang arena, syukur lisannya telah melegitimasi keberhasilannya adalah karena usahanya, bukan karena kehendakNya..
Padahal disana… didalamya.. diantara nafsu yang membelitnya : ada jiwa yang kering sedang meronta butuh air, gemertak kegersangannya mengepulkan hawa panas, terasa berdenyut tak henti sampai ke ubun-ubun. hati yang hitam legam karena kemaksiatan, tak lagi mampu menerima cahaya kebenaran meski kepala mengangguk-angguk seribu kali…
Naif!
Jiwa itu memenjarakan dirinya dalam rutinitas yang makin kering, keindahannya hanya ada ketika fajar dan lenyap bersama naiknya sang mentari ke penggalan hari. langkahnya gontai disapu angin sepi, diperjalanan kemarau paling terik, menuju sebuah titik lontar : langsung ke neraka….
Astagfirullahal’adhim…
Seribu cermin tak kan mampu membuka aib diri, gajah dipelupuk matapun tak akan pernah tampak ….
Rabb… tak ada dariku keterlepasan pada kebutuhan akan cintaMu, seperti mahluk daratan butuh udara untuk bernafas, mutlak! alangkah indahnya hari ketika rajutan cinta itu bergelayut memanjang dan makin rapat, tak satupun celah memungkinkan untuk berlalunya detik tanpa cintaMu, karena Engkau adalah segala-galanya yang menjalinkan cinta dalam pergerakan semesta. tapi mengapa seribu hujan tergores di lembar kehidupan berlalu saja… dan aku masih kekeringan…
Rabb… aku ingin hujan itu membuatku terbangun dari keterlenaan ini…
Menyegarkanku, menghidupkan kembali hati yang mati…

11 pemikiran pada “Menghidupkan Kembali Hati yang Mati

  1. Terus maju dan tetap teguh di jalan-Nya. Setiap episode kehidupan manusia telah diatur alurnya, meskipun kita juga mempunyai hak untuk memilih jalan mana yang akan mengantar ke alur yang berbeda di setiap pilihanya. So terserah pilihan anda, yang pasti tidak ada yang lebih cerdas selain pilihan kebaikan..semangatzzzzzzz teruzzzzzzz.😀

  2. salam… ana melihat dan menghayati komen anta…
    manarik dan membawa ana kembali menyoroti zaman kenajiran hujan yan menghuni pipi, yang kini dilanda kemauk kemarau yang berbulan-bulan lamanya… terima kasih..
    bolehkan kiranya ana copy sajak anta ni??

  3. bro ada avatarnya lho… tapi kok akhwat?? nah lho?? saya cek ke coment-mu yang lain juga ada avatarnya si-akhwat ini… hehehe wah kacau ni.. mending njenengan buat avatar saja biar tidak diganti pihak lain, kemungkinan di-hack orang lain, coba googling siapa tahu ada solusi… aku tadi coba googling tapi ndak/belum ketemu…

  4. Bala keberhasilan cenderung lebih sulit dikelola dari pada bala bencana…
    Bala bencana menyadarkan, bala keberhasilan melupakan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s