Hujan dan rasa syukur kita

Beberapa hari ini hujan mewarnai kehidupan dengan damai, membuat kesegaran menyemburat dari hijau dedaunan yang terlihat di sepanjang dataran di sekitar kita, tidak ada yang khusus dari peristiwa musiman itu, kecuali sebuah kebiasaan saja yang berlalu tanpa kesan. Tapi dibalik semua itu sesungguhnya hal biasa itu menyimpan banyak pesan bagi mereka yang mau berpikir.

Hujan adalah anugerah besar bagi kehidupan, tiap tetesannya adalah penghilang dahaga bagi bumi yang kehausan, jika ia tersimpan maka akan menjadi mata air kehidupan yang dapat dimanfaatkan dalam masa yang tidak sebentar. Jika ia mengalir, ikan-ikan berenang dengan gembira dan tempat minum berbagai mahluk yang menambatkan sumber kehidupan darinya.

Hujan adalah rangkaian nikmat Tuhan yang tidak banyak kita syukuri, padahal jika hujan itu tidak turun dalam waktu yang lama maka bencana kekeringan bisa menghilangkan beberapa generasi…

Hujan adalah bagian dari sistem kehidupan yang bersiklus dan membutuhkan urutan yang tertib agar keberadaannya dapat diharapkan dan bermanfaat. Apabila salah satu bagian sistem tidak berfungsi dengan seharusnya maka akan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.

Seperti banjir, adalah akibat dari sistem yang tidak lagi tertib. Hutan dan kawasan hijau yang mutlak ada untuk penyerapan air dan penahan erosi sudah mulai hilang dari permukaan bumi. Gaya hidup konsumtif yang tidak peka lingkungan menjadi sumber polusi yang merusak sistem lingkungan yang saling terkait.

Setiap kali hujan datang, sebagian dari kita berpikir ganda : ini awal dari nikmat yang berlimpah atau bencana yang menyengsarakan? Jawabannya ada pada diri kita sendiri, sejauh mana kita perduli dengan kehidupan ini, memperhatikan pola hidup yang peka lingkungan dan berusaha secara aktif menyelamatkan bumi dari kerusakan atau sebaliknya?

Kepedulian kita pada bumi dan memperhatikan gejala-gejalanya untuk menyelamatkan kelangsungan kehidupan adalah wujud rasa syukur kita pada nikmat Tuhan. Semoga kita semua bisa berperan dalam gerakan global ini, untuk kita, untuk anak-cucu kita, untuk kehidupan yang berharga ini, amin

(Tulisan ini terinspirasi dari Fokus Radio Jepang 22 Februari 2008 tentang “Biaya Beban Carbon” – dan telah dibacakan di acara Halo dari Tokyo pada bulan Maret 2008 dan alhamdulillah, terpilih sebagai “Surat Bulan Ini” Maret 2008)

Satu pemikiran pada “Hujan dan rasa syukur kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s