Menunggumu

sebatang hari merapuh ke ujung senja
resah yang terlipat dalam baris nafas makin kentara
gundah desau angin menaut ranting-ranting
sendirian, rimbun sang sahabat telah berlalu

jika fana berkaca pada kekal
tak lebih dari sekilas mimpi di tidur panjang
menghitung depa dalam putaran masa
melupakan garis yang telah tergaris pada nasib

menatap jarum berdetak sang laju
berasa langkah masih panjang menuju
sedang rindu yang pekat telah berkarat
membatu hati dalam cermin diri yang diingkari

tapi setiaku akan membajaku disini
menyapa pagi dan merindu lagi
tak pernah beranjak
hingga hadirmu menyejuk kesejatian

7 November 2019

Kering

hari telah membujuk langit untuk temaram
janji berbingkai kelabu dan harap akan jernih tetesanmu
namun silau menatap lembarmu
biru masih menggantang tak bercadar

bumi kecoklatan dalam sepoi angin kering
berurat tanah pecah tanpa basah
semampunya hamparan itu bertahan
bahkan rumput-rumput tak lagi punya daya

pandangku menyusur kisahmu
kudapati rengkuh penuh peluh dalam asamu
sungguh ….
ini masih panas yang belum juga berganti

tapi takjub tak selalu tentang hijau
atau gemilang rupa yang memanjakan
karena di keringmu ku lihat warna baru
keindahan bumi bertasbih merengkuh takdir

Gunungkidul, 31 Oktober 2019

Usaha Tak Lagi Punya Daya

Hati hanya lembut saat mata sayu mengingatNya
Kembali membatu saat jauh dariNya
Garis hidup yang direntang antara penciptaan dan Mahsyar
Direguk manisnya, dikecap gurihnya, lalu dicampakan sisanya
Dipinggirkan untuk dipungut setan-setan
Membawanya di timbangan kiri yang memberatkan
Berakhir menuai takdir siksa di neraka
Saat itu usaha tak lagi punya daya

Intervensi di Awal Pagi

Sekujur raga mengucap hormat pada hari
memulai langkah dalam sapa dan doa
memasuki dunia kecil yang penuh gairah
membawa banyak nuansa dalam selintas kata-kata

Namun..
tetiba saja goncangan menerpa
satu dari banyak tangan-tangan itu berulah
sikap tak sopan dan tingkah berandal
bagai sabetan pedang menebas sabar pecah berantakan
berakhir eksekusi kata api yang menyambar

Intervensi di awal pagi
hari seharusnya bermula dalam damai
selaras gairah jiwa masa-masa belajar
yang optimis dan ceria
sayang kini ia terluka

Merapi di Ujung Februari

Menatap utara pagi ini aku tertegun takjub dalam kagum yang tak terperi
Segagah yang pernah kujangkau bertahun yang lalu
Semegah pencakar langit yang menembus gemulung awan hingga meruncing puncaknya
Terpahat guratan tajam didindingnya, menegaskan waktu yang dilewatinya
Tinggi menjulang penuh wibawa sekaligus keangkeran : kengerian

Terpekur berdua dengan saudaramu menghias horison utara dalam jangkauan mata
Membelai langit pagi  temaram bercahaya semburat dalam lapis mendung Februari
Kau tinggalkan jejak masa dengan keindahan yang menghancurkan dan kepedihan yang mempesona

Tak bisa hilang dalam ingatan, gemuruhmu dan abumu yang melintas hidupku
Mengusir para pemukim menjauh dari kakimu
Berduyun menempuhi jarak meninggalkanmu sendirian

Tak bisa hilang dari jejakku, saat langkah gontaiku merengkuh puncakmu
Menjadi saksi saat mentari meminangmu di fajar pagi, lalu membelaimu perlahan
Menyapu pandang dipunggungmu dan mematri euforia yang tak kan pernah hilang

Merindumu kini terbiaskan dalam pandang menujumu
Untuk suatu hari kembali menapaki punggungmu
Menuju puncakmu dalam rindu

 

 

 

 

Kasihmu Mengukir di Dinding Hatiku

untuk Umi Rachmawati

Hujan Februari bukan yang pertama menyisirku dalam kabut senja
Masih banyak hitungan tak terhitung yang telah lewat, tentang waktu
Kau masih disitu selalu, menungguku di hari-harimu
Menjauh sebentar untuk melihat surya, lalu berbalik memelukku dalam sendu

Aku bukan Ali untuk Fatimah
Aku hanya sosok kerdil dalam jangkauan cahaya bulan
Bermitra dengan tekad, membawamu berlayar menuju pulau asa
Tenggelamkan sampan beban dan terbang bersama angin ke surga

Minggu mengular membelit hari, tersadar raga yang lelah butuh merebah
Kau tepiskan jengah lalu ulurkan tangan menadahku membaringkanku
Meski tak tersembunyi di wajahmu peluh hari yang kau lalui
Engkau masih menggores puisi cinta dalam tarian kasih sayang

Sungguh indah kau rangkaikan itu
Aku menikmat kidung kisahmu dalam nadiku
Biarkan berprosa rangkaian kata-kata kala senja
Kasihmu mengukir di dinding hatiku

Mengindra Strata Diri dalam Kohesi Langit – Bumi

Tugasku belum usai, bahkan belum benar-benar mulai
kalaupun ada aku disitu, tak lebih sebagai pelengkap penderita : semacam obyek dan bukan subyek

Kisahku masih panjang, sepanjang angan-angan yang hampir-hampir tak terjangkau akal, saking panjangnya dan ruwetnya angan itu : sepadan dengan kompleksitas ruang dan waktu

Hidupku kurang terus, ditanya butuh apa, dijawab butuh apa-apa : kalau harus ditulis maka berlembar-lembar kertas tak akan cukup untuk merincinya, konsep kelangkaan tak sanggup menjelaskannya

Cintaku mungkin palsu, cinta dunia, cinta-cintaan, dan dramatisasi cinta. Cinta dimulut  benci dihati, benci dimulut hati “I Love You”, cinta dan benci bersatu jadi identitas baru perasaan yang kekinian : kacau!

Rinduku untuk nafsu, yang bertabur bunga-bunga rasa kangen beraroma syahwat : semerbak wangi racun dalam belaian duri berkarat : jahat!

Tobatku rasa sambal, menjauhkan yang salah dari jangkauan diri, tapi detik bergulir semua berulang seperti sedia kala, seakan siklus hidrologi yang terus terulang-terulang, dan terulang

Ibadahku? oh….. jauh

Masih tetap aku dengan segunung alasan untuk menjadi hujjah bagi kekerdilan yang terpelihara, subur di bumi yang makmur . Masih seperti dulu saat kulempar kata pada langit memohon dalam tangisan penghambaan agar terselamatkan dari segala sengsara. Masihlah aku yang tak kunjung faham arti kesejatian, yang hati buncah dan pecah hingga tak sanggup mengindra strata diri dalam kohesi langit-bumi

Tugasku belum usai, masih akan panjang berkisah tentang hidup, cinta dan rindu,
Anganku menetap di horison pertobatan yang hening dalam kesempurnaan penghambaan hanya kepadaNya

 

 

Rindu

Rindu mendekat karena aku menjauh
berjarak dari pusaran pikirku
membebani hati
memimpin rasa ke lembah-lembah tersayat
membuai asa dalam kelopak berjelaga
yang hampir runtuh jadi hujan sore ini

Rindu menggulungku ke arahMu
yang tak lagi ada dalam jangkauanku
cukupku dalam renung hati yang tak tersampaikan
kepadaMu

Ironi Hari yang Terulang

Senja menutup cepat ke tepian malam yang mulai terlelap
air berjatuhan dari langit abu-abu yang makin gelap
pohon sendu menangis ke rumput-rumput yang basah
selurus tapak roda-roda berputar ke arah jarak terpisah
menuai ujung hari memilah diri dalam lelah yang gerah

Kuterpekur menyusur jalan pulang
membawa raga tersisa ke peraduan mimpi yang melanglang
jauh titik di sisi lain menghitam bumi
merangkum puing asa dan menyimpannya untuk esok pagi

Tertempuh tak kurang dari dua kali putaran jarum panjang
menderu sisi kiri melesat sisi kanan berlebih nan tak kurang
mengaum mengumpat menjerit-jerit berderit menderam
saat tiba waktunya, terdiam lalu hening
dan warna keabadian meluruh ke puncak hitam
saat itu bagiku adalah pembaringan
lalu penghambaan
dan kemudian kepasrahan

Namun tidak di sisi luar sana
masih terdengar deru dari sisa-sisa hari itu
yang gontai menyulam kelam dalam remah-remah hujan
yang masih dan masih jauh lagi menerobos masa
untuk sampai di pelukan yang dicinta
mengapai-gapai ketidakadaan agar tak nyata
mencoba mengurai benang kusut agar tak menjerat makin parah
mencoba melawan hari agar ujungnya tak pernah sampai
hingga putaran baru derita tak bermula lagi saat fajar menyapa

Oh ya Rabb… sedikit lagi kupenuhi mimpi-mimpi
tentang cinta
tentang harapan
tentang pencapaian
tentang kebahagiaan

Tapi masih banyak diluar sana bernafas dalam sengal
membalut luka-luka jiwa dengan tangisan duka
untuk sepenggal kisah sepi di esok hari
yang masih perih
yang tak pasti
yang tersingkir
yang terlupakan

26 Jan 2018