Khusyuk

langit masih mendung dan gelap hampir menyergap
tak sempat mentari berpamitan pada siang
horison yang menantinya hanya nanar tanpa daya
kisah harinya tersia-sia
senja telah berlayar menjauh berlabuh ke pulau malam

aku berpeluh menanti waktu itu tiba
saat gemerlap daya cipta mempesonakan pandangan
yang perlahan menghilang dikawal berlapis warna
namun teronggok di lukaku yang lama,
engkau pergi tanpa rasa

sejumput doa telah kukirim ke langit
agar engkau mendekat dan memberiku senyuman
namun kepakan sayapmu melambai saja
memberi isyarat yang tak sama tentang kita
yang lama terjarak dan merenggang dalam masa

aku bersiap, engkau tak ada
aku berdiri, engkau tak hadir
aku bersujud, engkau tak wujud

Rabb.. hadirkan dia ya Allah
dalam sisa jejakku yang tak panjang

aku ingin mendekapnya
sampai akhir

Tempel, 14 Februari 2017

Jejak yang Tak Hilang

merajut ujung hidup hari ini dalam ruang dan waktu
membentangkannya satu satu untuk menguak kisah lalu
terbacalah kusam berdebu bergumul dalam daki jiwaku
seonggok potret buram yang pongah di masa itu
tanda sempit jiwa juga sombong bagi bukti rasa yang kosong

kucoba meruncingkan rasa dan mengheningkan cipta
menata tebaran mosaik kisah dalam pigura realita
seakan kuncup dimekarkan lalu tak lama layu dihadirkan

jika saja diri mampu bicara sejati
apa yang nurani ingin tersampaikan pada hati
bukan bisikan sendu yang gemulai merayu
tapi congkak diri telah membebani jiwa ini sepanjang waktu

masih terenggut dalam angan tentang itu
yang pekat menggeliat berkarat dan kini sekarat
masihlah ia ada diantara kebanggaan akan keberadaan?
sebuah ironi yang tak tertepis menipis di basis jiwa yang teriris

laku itu bukan semata jejak yang akan hilang saat melangkah
ia tertinggalkan dalam catatan pena yang tersimpan
akan diungkapkan semuanya saat masanya tiba
tidak ada pengelakan
tidak ada perbantahan
kecuali kepastian kepastian yang telah ditetapkan

bersiapsedialah
semuanya, tak terkecuali, akan diperhitungkan

Tempel, 10 Februari 2017

Sepenggal Nafas Lagi

menidurkan mata dalam pejam malam yang miris
aku menghambur dalam kelebat angin dan hilang bersama gelap
sebuah kata mimpi tak terperi kini hadir untuk menyindir
berapa lama lagi kau hidup?

nuansamu adalah gemerlap lusuh yang tak terbasuh
engkau bertuan tapi tak berkawan
sebenar-benarnya jatidiri adalah mati
itu pasti

mengapa kau tanyakan itu teman?
bukan aku ragu
aku hanya tak mau semua ini pergi
lalu sepi dan sendiri

duniamu mengernyit dalam kening tuanya
memikir tajam guratan guratan masa
adakah jalan keluar yang nyaman untuk semua ini
semisal kejahatan telah membatu dalam nafasmu
dan kebatilan telah mengebiri keimananmu
angkau jual takwa untuk sekantung rayu
lalu layu

hidup tak seuntai nada padu
harmoni yang berujung di tonggak-tonggak kaku
yang memakumu dalam laku
dan hukum yang pasti akan berlaku

sirnalah sekujur angan itu
jikalau yang kau tanyakan itu terjawab
besok
nanti
atau sepenggal nafas lagi

Tidak Nikmat? Hati-hati!

Ketika hati gersang meradang, jiwa yang lelah menggantung gelisah, gontai langkah menyusur jalan ibadah. Setiap jadwal harian yang lima waktu berlalu begitu saja, sekelebat raga bergerak namun hati tak jua tunduk, ia terbang kemana-mana. Bisikan sendu niat yang mengawalinya tak mampu mengubah fakta bahwa jejak kali ini sama saja dengan sebelum-sebelumnya, tak punya makna, kering dan hambar.

Setiap lembaran kalamNya selesai dibaca, berat rasanya untuk lanjut ke lembar berikutnya, seperti lereng terjal yang sulit dijalani, lalu alasan segera dikemukakan untuk menutupnya dan menggantikan dengan yang lain.

Saat sebulan menahan lapar dan dahaga, benar-benar hanya lapar dan dahaga yang tertahan, sementara yang lainnya melonjak-lonjak tak lagi mau ditahan, Amalan lain berjalan sekedar rutinitas, gamang dan tanpa ruh.

Lalu puncaknya, saat sesal mencoba dihadirkan dan kesedihan karena langkah yang salah dicoba dibentangkan, yang ada hanya kekeringan. Mata tak lagi sembab, ia hanya berkedip-kedip, hilang sudah kemampuannya untuk menghadirkan haru meski dipaksa-paksa.

Lalu cermin diri mulai berlumut, hati tak lagi menjadi tempat nurani bicara kesejatian dan kehakikian, Ia sekedar segumpal darah beku yang tak lagi responsif, kosong dan membatu.

Ketika ibadahmu hambar, tak lagi kau rasakan kenikmatannya, berhati-hatilah! mungkin engkau sedang menjalani hal yang sia-sia. Katika hatimu tak lagi bertaut, segeralah introspeksi mungkin kau hanya jalani semuanya sekedar menggugurkan kewajiban, bukan berdasarkan keikhlasan.

“Katakanlah, Maukah kami kabarkan tentang orang yang paling merugi amalan mereka? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia usaha mereka di dunia, sedang mereka menyangka telah mengerjakan sebaik-baiknya.” (Q.S. Al Kahfi 103-104)

Merangkai Asa di Babussalam 3J

Hari berikutnya setelah Sepuluh Maret, perjalanan episode baruku dimulai kembali. Di titik ini aku semakin merasakan betapa beruntungnya aku, di saat-saat butuh bantuan banyak saudara yang siap sedia membantu, mengantar, mengurus ini itu.

Selasa pagi semua dipersiapkan, tujuan utama menuju rumah sakit daerah yang kemarin merawatku, tapi karena jauh pilihan lain dijatuhkan, kami mau mencoba rumah sakit swasta terdekat dulu. Sebelum kesana harus mengurus dulu rujukan ke puskesmas agar nanti asuransi kesehatanku bisa digunakan, tidak semulus itu ternyata, ada kekurangan persyaratan yang menuntutku harus bolak-bailik plus antri puskemas-kantor asuransi-puskesmas lagi. Alhamdulillah menjelang tengah hari rujukan beres.

Ketika matahari mulai terik kami menuju rumah sakit swasta terdekat, di pendaftaran mendapat info kalau dokter bedahnya baru ada besok!

kelamaan, cidera tulang harus segera ditangani” kata saudaraku

Akhirnya dengan beberapa pertimbangan kami melanglang jauh menuju rumah sakit daerah yang kemarin merawatku, untungnya sudah didaftarkan pagi-pagi oleh pihak yang kemarin menyerempetku sehingga ketika kami sampai sana langsung diperiksa.

ini harus operasi mas, nanti kalau langsung dapat kamar, operasi baru bisa dilaksanakan Kamis, atau kalau mau cepat ke rumah sakit swasta dekat sini saja, nanti lewat ICU, dokternya senior saya dan kemungkinan bisa dapat penanganan segera, juga disana terima asuransi seperti disini, sama-sama rumah sakit tipe B,  gimana?

“ke rumah sakit swasta yang dekat sini saja dok!”
“baik saya buatkan catatan untuk sana”
“terimakasih dok”

Ada harapan dan ada keraguan, ketika dua rumah sakit tidak bisa memberikan layanan yang diharapkan,  di tahap ini kelelahan sudah mulai mendera, Panas hari dan ketidaknyamanan menyelimuti sepanjang jalan. Semoga rumah sakit ketiga ini bisa menjadi peraduan akhir perjalanan pencarianku hari ini.

Alhamdulillah, di titik ketiga ini, kami bisa bernafas lega, setelah proses pendaftaran dan observasi di ICU aku segera mendapat kamar, meski tidak di kelas yang diharapkan, tidak apa-apa yang penting segera mendapat kepastian penanganan. dan di Babussalam 3J akhirnya aku dapat merebahkan raga, dan mendulang segala harapan agar semua prosesnya cepat dan lancar.

Besok harinya, sekitar setengah empat sore aku masuk ruang operasi, dan sekitar satu jam berikutnya aku sudah keluar lagi, alhamdulillah semua lancar.

Seluruh proses utama sudah dijalani, kini tinggal bersabar menapaki sisanya. Tak ada yang sempurna dalam kehidupan kecuali Dia yang Maha Sempurna, meski aku berusaha tabah, malam pertama setelah operasi adalah malam yang sangat berat, harapan akan segera datangnya pagi terasa diawang-awang, jam bergerak sangat lambat, dan rasa nyeri di bagian yang dioperasi membuat detik terasa berhenti.

Ya Rabb… kuatkan hamba…

Takdir Sepuluh Maret

Debu jalanan tak jemu menyapu degupku, sebuah tepisan masa lalu berlalu membiarkan diri berjaya menghadang panasnya jaman, dan kekuatan diri begitu terasa membahana sehingga takluklah segala halangan, tak ada yang tersisa di depan semua tertinggalkan di belakang.

Kecuali satu, takdir.

Ketika takdir memilihmu untuk menjadi bagian dari sebuah peristiwa, maka kadang engkau tak sanggup mengelak, bukan karena engkau tak berhak, tapi Dia telah menuliskannya : lembaran telah kering dan pena telah diangkat.

Seperti halnya Senin siang itu, di hari kesepuluh bulan Maret aku melaju membawa ragaku menuju keluargaku. Dari tempat start yang sayup-sayup di balik gundukan hijau itu aku memastikan kecepatanku normal atau di atas rata-rata. Tidak ada yang berbeda dari keseharian semua nampak sama, lalu lalang kendaraan, jalanan berkelok lalu naik turun, dan udara lepas tengah siang yang terlampau hangat.

Sampailah aku di titik takdir yang berbeda dari biasanya, kini ada yang spesial, tidak hanya mendahului kendaraan lain, tapi mendahului  kendaraan lain dan tersenggol , sebuah kombinasi yang pas yang disebut kecelakaan. Aku tersungkur,  dua gigiku rompal, lutut kiri dan siku tangan kiriku terluka.

Semua berjalan cepat bahkan sangat cepat, aku tak mampu menghindari gerakan mobil yang geser kanan mendadak seperti itu, dan takdir itu terjadi.

Alhamdulillah, kupikir ini seperti saat aku terjatuh sebelumnya,  tidak akan terlalu parah, tapi sang sopir yang menyerempetku menawariku untuk diantar ke rumah sakit, aku sudah akan menolak, ah langsung pulang saja, tapi orang lain bilang ” iya mas, rumah sakitnya cuma dekat kok, nanti biar motornya ditinggal di sini saja dulu, aman” dan akhirnya aku menyetujuinya.

Kurang dari sepuluh menit akhirnya sampai ke rumah sakit terdekat, di gawat darurat perawatnya bilang “sikunya bengkak mas, di sini bisa rontgen tapi tindak lanjutnya belum bisa, mending langsung ke rumah sakit daerah saja“…

Rontgen??

Aku kembali dibawa dan beberapa saat kemudian sampailah ke gawat darurat rumah sakit daerah, ruang itu luas dan banyak orang lalu lalang, beberapa bed tertata dan petugas medis bergerak kesana kemari, aku didaftarkan, diberi obat merah, lalu menunggu rontgen. Beberapa saat kemudian giliranku tiba untuk masuk ke ruang radiologi itu. Dua kali pose siku tangan kiriku akhirnya jadilah hasilnya. Petugasnya bilang “ini harus operasi mas, jangan dipijat ya!

Saya jawab : ” ya!
Dokter jaganya bilang : ” besok pagi kembali ke poli ortopedi ya pak
Saya sahut : “ya dok, terimakasih

Operasi! Ini benar-benar situasi yang baru bagiku. Ya sudahlah aku akan menjalaninya saja, seperti awal hari ini, lalu kejadian di lepas tengah harinya lalu hasil rontgen ini, semua adalah rangkaian takdirNya yang telah ditetapkan, tidak ada yang perlu disesalkan, disalahkan, atau dikeluhkan.

Di ujung senja itu semua meluruh semu, sebuah takdir bisa merubah dalam sekejap rutinitas menjadi edisi spesial, dan kutapaki awal episode baru ini dengan damai hati, biarlah mengalir saja.

Malam Antara Surga dan Neraka

Jemari mengatup, dingin membawa kehangatan pergi dengan cepat, tinggalkan seonggok kelu. Bulan muram gundah di bentang malam, sementara bintang terkantuk antara berjaga atau lelap saja. Jangkrik berbisik pelan lalu diam. Satu yang berpijar hanya lampu teplok di balik dinding bambu reot itu, cahaya redupnya menari bergoyang-goyang menerima belaian angin semilir yang menembus anyaman ingis yang tak rapat. Pelita di malam yang gelap dan dingin itu menerangi wanita tua yang bersujud khusuk pada Sang Pencipta. Sajadah tergelar dan rangkaian doa dipanjatkan, sesekali diseling suara terisak dan kilau bening menetes di pipimya yang keriput. Ada resah dan harap yang tersampaikan. Ada keyakinan dan kepasrahan yang digantungkannya ke langit menunggu jawab.

Di detik yang sama, di sisi lain peraduan malam itu, sebuah pesta sedang digelar, pria wanita bercampur, berjoget, bercanda ria, botol-botol minuman memabukkan disajikan, musik berderap, lampu bersinar menyala dan menyambar dalam aneka warna memuntahkan segala kesenangan dan membuang hening ke sudut gelap. Tak ada dingin yang merayap semua panas membakar-bakar, menutup segala masalah kehidupan dan menenggelamkan diri dalam kenikmatan yang membawa jiwa melayang-layang.

Seandainya malam itu, di detik itu, waktu bagi diri telah berhenti serangkai kisah akhir akan dicatatkan, dan daftar penerima kenikmatan dan siksa akan diumumkan, tinggal menunggu saja, pelan bahkan mungkin sangat pelan namun pasti, semua itu akan menjadi nyata.

 

Esok Pasti Lebih Baik

kalau boleh meminta sekali saja
kuingin untuk menuai panen lebih awal
agar tidak hilang karena hama yang menyerang
tapi angin bertiup kearah jauh
yang tidak memihak pada raga ini untuk menunduk menuainya
menggiringku ke pinggir
dan bulir-bulir itu jatuh bertebaran
aku hanya mampu membentangkan harap
tapi sia-sia
semua rusak

langkah yang lalu memberi tanda
akan seperti apa nantinya
jengah dalam asa
hingga langkah yang maju tersurut kembali
berlari dan terjatuh
tersudut di bentang yang luas
dan akhirnya menyerah

uhh..
meski baginikah
usaha-usaha kembali pada tataran teori
harapan yang jauh menjadi angan semata
pencapaiannya tidak lebih dari sejengkal saja
tak lebih, hanya itu

menyerahkah?
kutahu jalan jauh tidak untuk yang mudah lelah
jalan terjal bukan untuk yang mudah putus asa
kalau panen kali ini gagal
pasti ada panen lagi yang tidak gagal
esok pasti lebih baik

tak ada kata menyerah
setiap usaha pasti ada harganya
ada kebaikan yang bersamanya
meski itu sekedar secercah harapan akan kesempatan kedua
semua layak untuk diperjuangkan

Sepi

lagi,
tak banyak cakap diri bagi sepi
sebuah kemenangan akan berakhir jua
karena dunia hanya kefanaan belaka
lalu nafsu ini akan berakhir dimana?

kamus diri tak lebih membatasi
segala kata berarti ego diri
jurang dan jalan lapang sama saja dihadapan
tiada bertuan segala jiwa
hanya rapuh

sepi bukan karena sendiri
hilang hening dalam peluk jaman yang ragu-ragu
parau lenguhmu
semburat muram wajah jenuh
lalu jatuh

seperti buih lautan yang tercabik menuju pantai
tiap diri bertaut pada jiwa yang serakah lagi bengal
memperturutkan gejolak dengan semena-mena
bergelimang cinta pada dunia
dan berakhir merana

lagi,
sepi berlalu dan jiwa itu membatu
mengerdilkannya hingga tak berarti

lagi,
seutuh bongkah waktu terberai mendebu
dan lagi, menyisa siksa meluruhkan
dalam nisbi asa
memaku
sepi