Amarah

Biar muntab saja dia
kalau kemarahan tak terkekang, muntahkan saja
toh bukan aku yang terbakar, tapi dia
lihat matanya yang merah dan nafasnya berapi

tak cukup bagi dia hanya mengobarkan diri
sekarung nafsu mampu membuat kilat dan guntur bersautan
lihat taringnya mulai menyeringai
dua tanduknya mulai keluar, tinggal tunggu muncul ekornya

coba dengar tutur katanya
tak ada tata kramanya, tak ada sopan sopannya
semua keluar tanpa tertahan tahan
serentet kalimat tak berujung kecuali hawa panas

menghanguskan segala yang dibangunnya
yang dulu dijaga dan dipelihara
hancur berkeping

yang tersisa hanya luka menganga
yang hampir-hampir tak tersembuhkan

Penantian

Penantian hari itu terasa pilu
saat sebuah gemilang cinta yang cemerlang mengembarakan rindu
melayang-layang menuju awan
lalu menggantung di ujung pelangi

untuk sebenar-benarnya yang mampu diberikan
tak ada yang sepenuhnya terjurus kepadanya
kilasan saja dari yang sesungguhnya
mungkin tak lebih dari kepalsuan

bertumpuk dalam kelu lalu lusuh
sepenuh hati dikejar itu
berakhir di belantara kemunafikan yang akut
sembilu menggores luka menambah kisah ragu

ah…
engkau yang memenuhi rindu
tersenyumlah yang memenuhi relung itu
biar kata-kata tak ragu mengucap
dalam syair yang membiru dalam kalbu

wahai engkau yang menyempurnakan cinta
yang bergulat dalam waktu dan menunggu
bertambahlah satu masa lagi
dan penantianmu akan sempurna

 

Memilihmu

kubuka lembaran itu
kuamati gambarmu
kuangkat paku tinggi tinggi
kuhujamkan tepat ke jantungmu

tapi
beberapa mili sebelum menembusmu
kutahan tanganku
mengambang diatas dadamu

lalu
kuingat kata-katamu
kuingat kata-katanya
kuingat kata-kataku sendiri

dan
kuingat firmanNya

apakah hari ini persaksian bumi untuk memilih sekedar menggugurkan hak?
atau sekedar basa basi untuk kepentingan dunia?
ataukah ia punya kaitan dengan keberpihakan?

saatnya aku memilihmu karena keberpihakanku
bukan hanya padamu tapi juga padaNya
karena semua akan dipertanggungjawabkan

Tempel, 15 Februari 2017

Kecilku

kecilku,
engkau berada disini
yang terlahir dan hidup dalam lingkarku
mahakarya penciptaanNya tertakdir untukku
sebagai jawaban atas doa-doaku
dan usaha mewujudkanmu
untuk keinginanku memilikimu
untuk pembuktian keakuanku

kecilku,
beriring aku dan ibumu
kau berbaring, merangkat, merambat, dan berjalan
kau celotehkan kata-kata
kau nyanyikan nada-nada gembira
kau tangiskan lara
kau bisikkan asa

ayah tak akan pernah lelah
membawakan butiran makna hidup dari perjalanan
menceritakan bintang-bintang
mengajakmu berlari mengejarnya

cukup gembiramu
penawar lelahku

Tempel, 15 Februari 2017

Cinta itu

tak hanya sekantung coklat dan seikat mawar
untuk buktikan cinta
yang berhamburan di relung jiwa
biar ia bicara pada semesta
hati yang membuncah karena rasa yang menghidupkan
karena usaha dan takdir telah menyatu
menyulam janji suci
di permadani yang di gelar dalam perhelatan antar jiwa
yang bersaksi untuk bersama dan membersamai
di saat itu cinta diuji dan membukti

bukan saat masih terjarak
yang belum waktunya dipersatukan
biarkan saja masing masing
karena cinta yang sesungguhnya itu bertaut ke syurgaNya
bukan bualan dunia dan permainan setan-setan
menipu dengan gemerlap perayaan
menggoda bak madu
lalu teguk manisnya saat sebelum itu dihalalkan

kenikmatan yang disegerakan
adalah buaian perangkap indah
disebaliknya tersimpan belati
menikam menghujam hingga engkau mati

tak hanya sekadar kata cinta
yang murah meriah ditawarkan cuma-cuma
mengikat dua hati sebelum masanya
apalah ia, tak lebih sebuah kedurhakaan
yang dibumbui bermacam rasa
agar kau kecap dengan jalang
lalu hilang

bersabarlah saja
semua yang indah akan dipersilahkan
itulah saatnya cinta sucimu terwujudkan

Tempel, 15 Februari 2017

Khusyuk

langit masih mendung dan gelap hampir menyergap
tak sempat mentari berpamitan pada siang
horison yang menantinya hanya nanar tanpa daya
kisah harinya tersia-sia
senja telah berlayar menjauh berlabuh ke pulau malam

aku berpeluh menanti waktu itu tiba
saat gemerlap daya cipta mempesonakan pandangan
yang perlahan menghilang dikawal berlapis warna
namun teronggok di lukaku yang lama,
engkau pergi tanpa rasa

sejumput doa telah kukirim ke langit
agar engkau mendekat dan memberiku senyuman
namun kepakan sayapmu melambai saja
memberi isyarat yang tak sama tentang kita
yang lama terjarak dan merenggang dalam masa

aku bersiap, engkau tak ada
aku berdiri, engkau tak hadir
aku bersujud, engkau tak wujud

Rabb.. hadirkan dia ya Allah
dalam sisa jejakku yang tak panjang

aku ingin mendekapnya
sampai akhir

Tempel, 14 Februari 2017

Jejak yang Tak Hilang

merajut ujung hidup hari ini dalam ruang dan waktu
membentangkannya satu satu untuk menguak kisah lalu
terbacalah kusam berdebu bergumul dalam daki jiwaku
seonggok potret buram yang pongah di masa itu
tanda sempit jiwa juga sombong bagi bukti rasa yang kosong

kucoba meruncingkan rasa dan mengheningkan cipta
menata tebaran mosaik kisah dalam pigura realita
seakan kuncup dimekarkan lalu tak lama layu dihadirkan

jika saja diri mampu bicara sejati
apa yang nurani ingin tersampaikan pada hati
bukan bisikan sendu yang gemulai merayu
tapi congkak diri telah membebani jiwa ini sepanjang waktu

masih terenggut dalam angan tentang itu
yang pekat menggeliat berkarat dan kini sekarat
masihlah ia ada diantara kebanggaan akan keberadaan?
sebuah ironi yang tak tertepis menipis di basis jiwa yang teriris

laku itu bukan semata jejak yang akan hilang saat melangkah
ia tertinggalkan dalam catatan pena yang tersimpan
akan diungkapkan semuanya saat masanya tiba
tidak ada pengelakan
tidak ada perbantahan
kecuali kepastian kepastian yang telah ditetapkan

bersiapsedialah
semuanya, tak terkecuali, akan diperhitungkan

Tempel, 10 Februari 2017

Sepenggal Nafas Lagi

menidurkan mata dalam pejam malam yang miris
aku menghambur dalam kelebat angin dan hilang bersama gelap
sebuah kata mimpi tak terperi kini hadir untuk menyindir
berapa lama lagi kau hidup?

nuansamu adalah gemerlap lusuh yang tak terbasuh
engkau bertuan tapi tak berkawan
sebenar-benarnya jatidiri adalah mati
itu pasti

mengapa kau tanyakan itu teman?
bukan aku ragu
aku hanya tak mau semua ini pergi
lalu sepi dan sendiri

duniamu mengernyit dalam kening tuanya
memikir tajam guratan guratan masa
adakah jalan keluar yang nyaman untuk semua ini
semisal kejahatan telah membatu dalam nafasmu
dan kebatilan telah mengebiri keimananmu
angkau jual takwa untuk sekantung rayu
lalu layu

hidup tak seuntai nada padu
harmoni yang berujung di tonggak-tonggak kaku
yang memakumu dalam laku
dan hukum yang pasti akan berlaku

sirnalah sekujur angan itu
jikalau yang kau tanyakan itu terjawab
besok
nanti
atau sepenggal nafas lagi

Tidak Nikmat? Hati-hati!

Ketika hati gersang meradang, jiwa yang lelah menggantung gelisah, gontai langkah menyusur jalan ibadah. Setiap jadwal harian yang lima waktu berlalu begitu saja, sekelebat raga bergerak namun hati tak jua tunduk, ia terbang kemana-mana. Bisikan sendu niat yang mengawalinya tak mampu mengubah fakta bahwa jejak kali ini sama saja dengan sebelum-sebelumnya, tak punya makna, kering dan hambar.

Setiap lembaran kalamNya selesai dibaca, berat rasanya untuk lanjut ke lembar berikutnya, seperti lereng terjal yang sulit dijalani, lalu alasan segera dikemukakan untuk menutupnya dan menggantikan dengan yang lain.

Saat sebulan menahan lapar dan dahaga, benar-benar hanya lapar dan dahaga yang tertahan, sementara yang lainnya melonjak-lonjak tak lagi mau ditahan, Amalan lain berjalan sekedar rutinitas, gamang dan tanpa ruh.

Lalu puncaknya, saat sesal mencoba dihadirkan dan kesedihan karena langkah yang salah dicoba dibentangkan, yang ada hanya kekeringan. Mata tak lagi sembab, ia hanya berkedip-kedip, hilang sudah kemampuannya untuk menghadirkan haru meski dipaksa-paksa.

Lalu cermin diri mulai berlumut, hati tak lagi menjadi tempat nurani bicara kesejatian dan kehakikian, Ia sekedar segumpal darah beku yang tak lagi responsif, kosong dan membatu.

Ketika ibadahmu hambar, tak lagi kau rasakan kenikmatannya, berhati-hatilah! mungkin engkau sedang menjalani hal yang sia-sia. Katika hatimu tak lagi bertaut, segeralah introspeksi mungkin kau hanya jalani semuanya sekedar menggugurkan kewajiban, bukan berdasarkan keikhlasan.

“Katakanlah, Maukah kami kabarkan tentang orang yang paling merugi amalan mereka? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia usaha mereka di dunia, sedang mereka menyangka telah mengerjakan sebaik-baiknya.” (Q.S. Al Kahfi 103-104)

Merangkai Asa di Babussalam 3J

Hari berikutnya setelah Sepuluh Maret, perjalanan episode baruku dimulai kembali. Di titik ini aku semakin merasakan betapa beruntungnya aku, di saat-saat butuh bantuan banyak saudara yang siap sedia membantu, mengantar, mengurus ini itu.

Selasa pagi semua dipersiapkan, tujuan utama menuju rumah sakit daerah yang kemarin merawatku, tapi karena jauh pilihan lain dijatuhkan, kami mau mencoba rumah sakit swasta terdekat dulu. Sebelum kesana harus mengurus dulu rujukan ke puskesmas agar nanti asuransi kesehatanku bisa digunakan, tidak semulus itu ternyata, ada kekurangan persyaratan yang menuntutku harus bolak-bailik plus antri puskemas-kantor asuransi-puskesmas lagi. Alhamdulillah menjelang tengah hari rujukan beres.

Ketika matahari mulai terik kami menuju rumah sakit swasta terdekat, di pendaftaran mendapat info kalau dokter bedahnya baru ada besok!

kelamaan, cidera tulang harus segera ditangani” kata saudaraku

Akhirnya dengan beberapa pertimbangan kami melanglang jauh menuju rumah sakit daerah yang kemarin merawatku, untungnya sudah didaftarkan pagi-pagi oleh pihak yang kemarin menyerempetku sehingga ketika kami sampai sana langsung diperiksa.

ini harus operasi mas, nanti kalau langsung dapat kamar, operasi baru bisa dilaksanakan Kamis, atau kalau mau cepat ke rumah sakit swasta dekat sini saja, nanti lewat ICU, dokternya senior saya dan kemungkinan bisa dapat penanganan segera, juga disana terima asuransi seperti disini, sama-sama rumah sakit tipe B,  gimana?

“ke rumah sakit swasta yang dekat sini saja dok!”
“baik saya buatkan catatan untuk sana”
“terimakasih dok”

Ada harapan dan ada keraguan, ketika dua rumah sakit tidak bisa memberikan layanan yang diharapkan,  di tahap ini kelelahan sudah mulai mendera, Panas hari dan ketidaknyamanan menyelimuti sepanjang jalan. Semoga rumah sakit ketiga ini bisa menjadi peraduan akhir perjalanan pencarianku hari ini.

Alhamdulillah, di titik ketiga ini, kami bisa bernafas lega, setelah proses pendaftaran dan observasi di ICU aku segera mendapat kamar, meski tidak di kelas yang diharapkan, tidak apa-apa yang penting segera mendapat kepastian penanganan. dan di Babussalam 3J akhirnya aku dapat merebahkan raga, dan mendulang segala harapan agar semua prosesnya cepat dan lancar.

Besok harinya, sekitar setengah empat sore aku masuk ruang operasi, dan sekitar satu jam berikutnya aku sudah keluar lagi, alhamdulillah semua lancar.

Seluruh proses utama sudah dijalani, kini tinggal bersabar menapaki sisanya. Tak ada yang sempurna dalam kehidupan kecuali Dia yang Maha Sempurna, meski aku berusaha tabah, malam pertama setelah operasi adalah malam yang sangat berat, harapan akan segera datangnya pagi terasa diawang-awang, jam bergerak sangat lambat, dan rasa nyeri di bagian yang dioperasi membuat detik terasa berhenti.

Ya Rabb… kuatkan hamba…