Seperti berbingarnya jiwa yang meretas di fajar merah, untuk sebuah kebahagiaan tak akan pernah ada kata menyesal…
Inilah harga mati yang tak bertawar : "kesuksesan adalah ketika kaki kita telah melangkah di dalam surga", sebuah idealisme yang membumi di hati menghujam jantung memaku tiap persendian ke dasar pemahaman penghambaan yang tak terputus sampai akhir… Konsekuensi makhluk yang percaya akan Tuhan, dan menerima syariatnya tanpa basa-basi…
Sebuah episode peperangan dasyat dimulai dengan kepayahan yang bertumpuk-tumpuk, dalam gelap-terang bumi yang ambivalen, sedikit saja yang bertahan, sebagian besar menjadi korban, disandera di gudang-gudang nafsu dan mati untuk menunggu siksa. Banyak lagi yang terluka - sedikit saja luka menganga- dibiarkannya hingga menjadi syndrom akut yang tak tersembuhkan dan sebagian lagi terluka parah lalu koma tanpa tahu kapan akan berakhir…
dan diantaranya tersisa sedikit korban terluka yang kecil dan yang parah tapi kemudian dapat disembuhkan, sehat dan kuat untuk kembali berperang dengan pedang terhunus menghadang musuh dimanapun… kepahlawanan yang pasti terbayar, untuk tiap tetesan keringat, dan darah.. tak akan pernah ada yang sia-sia
di medan ini yang berjaya hanya jiwa-jiwa pendamba surga, yang enggan berbagi dengan kenikmatan sesaat, mereka rela berdarah-darah untuk sebuah kesuksesan yang sesungguhnya.
dan sungguh…. kesuksesan itu sangatlah dekat…
(Q.S. Al Mu’minuun 111-114)
111. Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena
kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang
112. Allah bertanya: "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?"
113. Mereka menjawab: "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung."
114. Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui
