GUSS!


Teknologi Ramah Lingkungan
Maret 31, 2008, 5:59 pm
Diarsipkan di bawah: Uncategorized | Tag: , , ,

Kemajuan teknologi menjadikan kehidupan lebih mudah dan menyenangkan, tapi dampak negatif kemajuan itu juga tidaklah sedikit, misalnya polusi yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan pemborosan sumbar daya alam yang tidak dapat diperbaharui.Seandainya kemajuan teknologi hanya mengutamakan kecanggihannya tanpa mempertimbangkan dampak negatifnya bagi kehidupan maka sesungguhnya kehadirannya bukanlah kemajuan tapi justru sebuah kemunduran. Teknologi yang merugikan bagi lingkungan adalah sebuah belati yang menikam dari belakang.

Kehadiran teknologi ramah lingkungan adalah solusi bagi kehidupan berkesinambungan yang dapat dipertanggungjawabkan, kebutuhan akan hal itu adalah mutlak. Jika tidak , maka hal itu akan menjadi beban berat bagi generasi berikutnya dimana mereka akan mewarisi sampah polusi dan segudang masalah lingkungan yang mempengaruhi kehidupan paling dasar.

Sayangnya kemajuan teknologi ramah lingkungan ini masihlah hal langka (juga mahal), hanya dapat dinikmati dengan pengorbanan sumber daya yang besar dan oleh negara-negara maju saja. Sementara masyarakat negara berkembang masih kesulitan mengakses teknologi semacam ini. Padahal banyak sumber daya alam dan pendukung kehidupan bumi berbasis di negara-negara berkembang. Sehingga terdapat kesenjangan antara usaha pelestarian lingkungan dengan penerapan teknologi yang mendukungnya.

Kesenjangan ini hanya dapat diatasi jika negara maju memberikan kemudahan bagi negara berkembang untuk mengakses teknologi ramah lingkungan yang mereka hasilkan seluas-luasnya. Sehingga ada sinkronisasi antara pelestarian lingkungan dengan teknologi yang digunakan. Jangan sampai ketika negara berkembang dapat menikamati teknologi ramah lingkungan pada saat itu lingkungan sudah terlanjur rusak atau terpolusi parah, hutan telah habis, air tercemar, udara kotor, sampah menumpuk, sumber daya alam menipis drastis, dan manusia sedang sakit-sakitan menghadapi gejala perubahan iklim global.

Tentu ironis sekali ketika sebuah mobil hybrid yang ramah lingkungan melintas di sebuah kawasan, dimana di salah satu sudutnya terdapat sampah yang menumpuk, display pencatat kondisi udara menunjukkan kandungan CO2 yang tinggi, air kekuningan melintas disungai yang tak ada lagi ikannya, dan disalah satu rumah sedang terbaring seorang anak yang sakit karena udara kotor…

(Tulisan ini terinspirasi dari Fokus Radio Jepang tentang " Teknologi Mobil Hybrid" yang disiarkan 19 Maret 200 8)



Hujan dan rasa syukur kita
Maret 30, 2008, 11:57 am
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: , ,

Beberapa hari ini hujan mewarnai kehidupan dengan damai, membuat kesegaran menyemburat dari hijau dedaunan yang terlihat di sepanjang dataran di sekitar kita, tidak ada yang khusus dari peristiwa musiman itu, kecuali sebuah kebiasaan saja yang berlalu tanpa kesan. Tapi dibalik semua itu sesungguhnya hal biasa itu menyimpan banyak pesan bagi mereka yang mau berpikir.

Hujan adalah anugerah besar bagi kehidupan, tiap tetesannya adalah penghilang dahaga bagi bumi yang kehausan, jika ia tersimpan maka akan menjadi mata air kehidupan yang dapat dimanfaatkan dalam masa yang tidak sebentar. Jika ia mengalir, ikan-ikan berenang dengan gembira dan tempat minum berbagai mahluk yang menambatkan sumber kehidupan darinya.

Hujan adalah rangkaian nikmat Tuhan yang tidak banyak kita syukuri, padahal jika hujan itu tidak turun dalam waktu yang lama maka bencana kekeringan bisa menghilangkan beberapa generasi…

Hujan adalah bagian dari sistem kehidupan yang bersiklus dan membutuhkan urutan yang tertib agar keberadaannya dapat diharapkan dan bermanfaat. Apabila salah satu bagian sistem tidak berfungsi dengan seharusnya maka akan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.

Seperti banjir, adalah akibat dari sistem yang tidak lagi tertib. Hutan dan kawasan hijau yang mutlak ada untuk penyerapan air dan penahan erosi sudah mulai hilang dari permukaan bumi. Gaya hidup konsumtif yang tidak peka lingkungan menjadi sumber polusi yang merusak sistem lingkungan yang saling terkait.

Setiap kali hujan datang, sebagian dari kita berpikir ganda : ini awal dari nikmat yang berlimpah atau bencana yang menyengsarakan? Jawabannya ada pada diri kita sendiri, sejauh mana kita perduli dengan kehidupan ini, memperhatikan pola hidup yang peka lingkungan dan berusaha secara aktif menyelamatkan bumi dari kerusakan atau sebaliknya?

Kepedulian kita pada bumi dan memperhatikan gejala-gejalanya untuk menyelamatkan kelangsungan kehidupan adalah wujud rasa syukur kita pada nikmat Tuhan. Semoga kita semua bisa berperan dalam gerakan global ini, untuk kita, untuk anak-cucu kita, untuk kehidupan yang berharga ini, amin

(Tulisan ini terinspirasi dari Fokus Radio Jepang 22 Februari 2008 tentang “Biaya Beban Carbon” - dan telah dibacakan di acara Halo dari Tokyo pada bulan Maret 2008 dan alhamdulillah -) terpilih sebagai "Surat Bulan Ini" Maret 2008)



Pengumpul Tulang
Februari 24, 2007, 2:43 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag:

lafadz3
Pagi itu sebelum pergi, aku sempatkan nguping Radio Jepang, siaran jam 23.00-23.20 UTC, fading dengan SIO 333 di frekw. 17810, topik fokus pagi itu cukup unik dan sisi kesungguhan orang Jepang tergambar dengan jelas.. “Misi terakhir relawan pengumpul tulang korban perang di Okinawa“.. pengumpul tulang..?
ya sebuah tim relawan telah bekerja mengumpulkan tulang-tulang korban perang di Okinawa selama 20 tahun.. dan tahun ini adalah misi terakhir mereka.

tertegun juga mendengar ulasan itu.. betapa kesungguhan dan komitmen mereka sangat kuat untuk menguburkan dengan layak sisa tulang yang dapat ditemukan, di perkirakan masih sekitar 4000 korban yang belum ditemukan dari 20.000 korban tewas dalam pertempuran dengan Amerika pada akhir Perang Dunia II di Okinawa.

Anggota tim itu rata-rata berusia 70 tahun….

yah ! dan yang tertinggal dan dapat ku jumput gratis adalah hikmahnya.. semangat dan keiklhasan berbuat baik, kesungguhan dan rela memperjuangkan sesuatu yang diyakini, meski umur diujung penghabisan semangat berbuat untuk orang lain terus dan terus…

bisa nggak ya aku ikut-ikutan…



Pada suatu malam berbadai & pada suatu hari yang cerah
Desember 30, 2006, 9:21 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag:

top_guss_2.gif 
(tanggapan atas acara spesial NHK World Radio Japan,  Serial Bagian II “Pada Suatu Hari yang Cerah” sebuah fabel karya Yuichi Kimura -  kelanjutan Bagian I “Pada Suatu Malam Berbadai” , yang disiarkan 24 Desember 2006)

 Setelah penantian yang lumayan membuat penasaran, akhirnya hari itu tiba juga ketika “Pada Suatu Hari yang Cerah” terdengar mengalun mengungkap misteri kisah sang srigala dan sang kambing.

pembukaan kisah itu pada awalnya kurang “mengejutkan” karena langsung diketahui bahwa keduanya bersahabat dan kemudian janjian makan di puncak gunung batu.

sebelum cerita itu berlanjut… sepertinya rasa penasaranku langsung hilang dan terpikir bahwa kisah ini menjadi biasa saja karena tidak ada klimaks dan mudah ditebak : “happy ending” dengan mengabaikan fakta sesungguhnya “bahwa hubungan keduanya adalah pemangsa dan mangsanya - jadi tidak mungkin bersahabat”

… tetapi ketika cerita itu terus berlanjut….

mulailah kejutan-kejutan yang tidak diduga sebelumnya, membuat setiap penggalannya menjadi penuh tanda tanya yaitu : “apakah akhirnya sang srigala yang lapar akan benar-benar memakan sang kambing?”

dimulai ketika kambing tertidur… lalu pada saat keduanya berlindung di gua….ketika “kemudian terdengar suara kambing mengaduh kesakitan….setelah itu hanya terdengar suara langkah sang srigala” aku langsung berpikir : akhirnya srigala tidak mampu menahan laparnya dan mengabaikan persahabatannya dengan sang kambing hingga ia memakannya…ternyata : justru sang srigala menggendong sang kambing menuruni gunung batu karena sang kambing sakit…

WOW … cara bercerita yang benar-benar membuat kita menduga-duga terus bagaimana kelanjutannya. Bahkan diakhir cerita ini… ketidakpercayaanku bahwa persahabatan itu akan terus berlanjut masih ada, apalagi ketika… :”sang srigala membuka rahangnya lebar-lebar…”

aku langsung berpikir : inilah akhirnya! srigala tetap memakan kambing itu…

ternyata…..

LUAR BIASA.. ini cerita yang sederhana, tapi SANGAT MENARIK menarik karena jalinan cerita ini adalah potret kehidupan manusia

aku agak merinding saat mulai memikirkan hikmah yang bisa dipetik dari kisah itu !

inilah hikmah yang ku petik :

Pada dasarnya manusia hanya melihat pada penampilan lahiriah semata, penampilan luar yang tidak lebih dari sekedar topeng dengan make up tebal atau asesoris. Sehingga kita bisa memvonis orang itu baik atau buruk dari tampang luarnya saja, sehingga sulit bagi kita untuk jujur, ikhlas dan menerima apa adanya disaat kita sibuk memperhatikan penampilan luar yang kadang penuh kepura-puraan. Pertemuan sang kambing dan sang srigala di malam berbadai yang gelap gulita telah menelanjangi semuanya, tentang kejujuran, keiklasan dan persahabatan yang datang dari mata hati… bukan dari mata fisik. Apakah kita bisa seperti mereka, mengikrarkan persahabatan dengan hati bukan karena penampilan lahiriah dan niat-niat tersembunyi?

Dalam berinteraksi dengan manusia lain kita terbiasa untuk membebaskan pikiran kita, memikirkan banyak kemungkinan dari apa yang mungkin terjadi dalam hubungan itu, tentang apa saja yang mungkin ia akan lakukan pada kita, atau sering kita berpikir tentang kemungkinan niat-niat tersembunyi dari perlakuan baik orang lain pada kita. Sulit untuk tetap “positif thinking” apalagi kepada bekas musuh. Persahabatan sang kambing dan sang srigala ketika makan siang bersama di puncak gunung batu telah mengajarkan arti persahabatan yang sesungguhnya. Mereka menganggap tidak pantas berpikir yang negatif tentang sahabatnya. Ini luar biasa, hanya berpikir… sekedar lintasan di pikiran …. mungkinkah kita bisa seikhlas dan sejujur itu pada sahabat kita?, tidak mengkhianatinya meski hanya dalam pikiran kita?

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita ternyata terlalu angkuh untuk menerima perubahan perilaku, yang terlanjur kita persepsikan “tidak mungkin terjadi”. Kita merasa ingin menjadi penentu dari kelanjutan episode orang lain padahal sesungguhnya kita tidak punya kuasa atas itu semua. Ketika Sang srigala benar-benar bisa menjadi sahabat yang setia bagi sang kambing, kita masih berpikir bahwa sang Srigala pasti memakannya juga –tidak mungkin ia yang pemakan daging bisa menahan diri dalam keadaannya yang sangat lapar, padahal makanan lezat ada didepannya – Ternyata …
orang bisa berubah meskipun kita terlanjur mempersepsikan satu karakter tertentu kepadanya..

Persepsi yang kita berikan pada orang lain lebih banyak karena pandangan kita yang bias oleh kepentingan-kepentingan kita sendiri. Seandainya kita yang menjadi sang srigala mungkin sekali apa yang kita duga sebelumnya bahwa srigala akan tetap memakan kambing … benar-benar terjadi. Dalam dunia nyata ini sebagian dari kita mungkin lebih “srigala” dari pada srigala yang sebenarnya.

Totalitas dalam persahabatan adalah ukuran kesejatian dari persahabatan itu sendiri, semakin total kita dalam bersahabat semakin sejati persahabatan itu. Kita lebih banyak bersahabat untuk hal-hal tertentu yang menguntungkan kita dan tidak merugikan kita, kita cenderung mengambil jarak dalam persahabatan ketika dan bersikap “siap lari” ketika terjadi masalah. Persahabatan sang kambing dan sang srigala telah membuktikan totalitas itu, ketika sang srigala bersedia menggendong sang kambing menuruni gunung batu karena sang kambing sakit, ia tidak memilih menunggunya saja.. sebuah langkah “bersahabat” yang sebenarnya lebih menguntungkan dan tidak terlalu merepotkan. Tapi Sang srigala bersedia mengambil resiko itu….

Dan yang terakhir… meski mungkin banyak hikmah lain yang tidak mampu kutangkap : persahabatan itu keseluruhannya adalah luar biasa, dua karakter yang berbeda , dua alam yang berlawanan dan menyatu dalam dinamika keiklhasan, kejujuran dan hati nurani.

Aku hanya bisa bercermin dalam kisah itu… akukah sang kambing yang mempercayai persahabatan sepenuh hati sehingga tidak ada keraguan sedikitpun kepada sahabatku?… ataukah sang srigala yang mampu menahan segala ego dan nafsu diri untuk mempertahankan persahabatan?…

Ataukah aku bukan bagian darinya… karena nilai-nilai itu terlalu angkuh untuk berubah?

Ataukah aku … adalah tokoh yang akan muncul dalam episode berikutnya yang hadir untuk menghancurkan persahabatan sejati itu?….

Cermin diri yang berharga.. hikmah mendalam yang tak mampu kuselami seluruhnya…

Terimakasih karena acara spesial ini membekas dalam guratan kehidupanku…..Semoga itu akan mengejawantah dalam perubahan perilaku yang lebih menghargai, jujur dan ikhlas… meski perlu waktu… proses menuju kesana tidak akan sia-sia.