Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: hikmah, Istiqomah, Kehidupan, Kekeringan, kering, Kesegaran, Menyegarkan, Prinsip hidup, Segar, Sejuk
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: hikmah, Kagum, Pagi, Perjalanan, Sempurna, Surga
Pagi menyemburat dalam kuning kemerahan, langit terasa hangat. Bulan tanggal setengah tertinggal di awan, terlambat masuk ke peraduan dan rela terpanggang matahari pagi yang memudarkan sinarnya, hingga jadi bongkahan pucat yang makin tersamar.Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: cahaya, harapan, hikmah, janji, jiwa, keimanan, keyakinan, lautan, masa, Rindu, sajak, takdir
Segenggam debu tertabur diwajah sepi… tergeliat terkesiap dalam roman wajah tergagap, ada apa dengan masa?…. adakah jiwa terjaga lebih lama?, hingga saat takdir mempertemukan ruh ke padaNya ia sudah bersiap-siap
Waktu ini, sebuah kapal yang gagah bisa saja tenggelam dalam hitungan detik, tertelan gelombang dan karam tanpa terlihat bekas-bekasnya. Sementara kapal sederhana tampak berlayar damai di lautan ini, meski oleng sesekali ia tak sampai tenggelam. Dalam badai yang kedasyatannya sama ia mampu bertahan…
setiap diri adalah kapal-kapal itu, di dunia fana ini mereka berlayar membentangkan masa depan cita-cita ke jalur yang penuh ombak badai, sesekali terlihat pulau harapan di seberang sana, sebuah titik di kaki horison, timbul tenggelam… harapan yang benar dengan keimanan yang terjaga akan mengantar kapal-kapal itu ke pulau tujuan meski jauh dan penuh ombak, keyakinan mendekatkan yang pasti dan menjauhkan ketidakpastian, harapan yang benar akhirnya akan tertambat di pantai yang benar, sungguh : setiap usaha pasti berbalas sempurna.
Sementara beberapa bersusah payah dengan segala cara, pulau harapan yang lain yang tak jauh, terlihat berwarna dan bercahaya kemilau : begitu menjanjikan… sayang, ketika ia sudah begitu dekat ternyata hanya fatamorgana.
Sajak lautan ini masih akan berirama, mendendangkan keberhasilan sekaligus kegagalan. di pelabuhan yang mana jiwa ini ditambatkan, disanalah berlabuh segala harapan : titik di kaki horison atau di bercahayanya fatamorgana.
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: Azam, Hidayah, hikmah, Mozaik, Penyesalan, Perubahan, Puasa, Romadhon, Syawal, Syukur, Tobat
Mungkin hanya sedikit yang tersisa setelah berapa lama ini ramadhan berlalu dari hidupku… : sebuah penantian satu tahun kembali bermula, jika tak mampu istiqomah, hidup ini akan penuh duri dan lubang-lubang menganga, berkali-kali terjerembab dan penyesalan menjadi gundukan tak berarti.
Ada tobat sambal yang membuat antrian dosa menjadi panjang berdesakan.., jika masa ini adalah sebuah lembah niscaya telah terbanjiri oleh dosa, sehingga penghuninya megap-megap kehabisan nafas
Satu lagi problem laten (dan ini sangat penting!): hubungan dengan orang lain…
segudang problema ternyata berawal dari ketidakharmonisan hubungan dengan orang lain : konflik dan belenggu perasaan yang menggangu, konspirasi hawa nafsu dan egoisme terkamuflase dalam penampilan ramah yang semu menipu, amarah dan dendam menjadi bumbu penyedap yang setan berkilat-kilat karena gembiranya.
Banyak lagi…. dan bertumpuk-tumpuk membuat ketercapaian kembali kelevel dasar
Alhamdulillah masih ada kesempatan memperbaikinya, momen saum syawal menjadi titik balik kembali ke suasana romadhon yang kondunsif. Ada banyak pr pribadi yang mesti diselesaikan dan harus ada tekad kuat mewujudkannya. Ternyata beberapa kebiasaan baik harus dikondisikan meski dalam keterpaksaaan, karena hawa nafsu harus dipaksa sujud dalam ketaatan pada awalnya, suatu saat nanti semoga kebiasaan baik akan menjadi habit yang tak perlu lagi cambuk untuk menegakkannya. Juga kebiasaan buruk dan sesat, harus ada preasure kuat dan kontinyu agar ia tak kembali terulang, ada sanksi yang secara mandiri harus terdisiplin.
Namun kadang begitu hari berganti, semua azam diri turut terdistorsi, dari sebuah ketaatan menjadi ketidaktaatan, dan sebuah kebaikan berubah menjadi keburukan dalam hitungan detik. Tekad kuat melemah seperti benang basah ; tak mampu lagi ditegakkan. Sarana kebaikan menjadi rekreasi kesesatan yang bermuara kepada kedurhakaan…
Saatnya tiap diri menyadari : betapa kuasaNya atas hamba-hamba lemah ini tiadalah terbatas, selalu saja ketergantungan itu hanya padaNya, mutlak dan tak terbantah. Setiap jiwa terfitrah dalam kelemahan dan tanpa pencarian yang terus-menerus pada hidayahNya banyak jiwa akan kehilangan pegangan, meski ia terlihat kokoh dan tegak tapi pada hakikatnya ia rapuh dan miring ke jurang. Sedikit yang terselamatkan, sedikit yang mampu menjaga tekadnya mewujud dalam kenyataan…
Pencarian hidayah itu tak terbatas ruang dan waktu : dalam setiap kondisi dan situasi, dalam lapang dan sempitnya diri. Subhanallah, dalam pencarian itu terkadang bertemu dengan telaga yang mampu menyegarkan : hikmah! yang tersebar dimana-mana dan menjadi hak-ku untuk ku pungut kapan saja dimana saja…
Seperti kemarin saat silaturahmi ke kerabat dan tetangga: ada potret kehidupan yang membuatku tertampar : betapa rasa syukur menjadi barang mahal bagiku selama ini, ada keluguan dan kesederhanaan ternyata adalah keberlimpahan kebahagiaan. Ada juga kesabaran yang membuat aku malu, …. subhanallah. Juga ketidaknyamanan yang mewarnai sebagian hari-hari ternyata adalah ujian kesabaran untuk menuju ke kenyamanan di level berikutnya, apakah sabar atau tidak adalah pilihan yang bebas kita apresiasi sesuai kehendak jiwa, pilihan yang tepat akhirnya menjadi penentu apakah kita akan bahagia dalam kehidupan ini atau menderita…
Syawal ini adalah episode baru yang menjadi tonggak perubahan, romadhon yang bercahaya itu semoga mengalir sampai romadhon berikutnya…. menjadikan hidup yang hanya "… sesaat saja di siang hari.." ini : membekas kebaikan sampai nanti diakhirat. Amin
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: Asa, cinta, Cita, hikmah, Karunia, Kesempatan, Pernikahan, Syukur, Terimakasih
Allah masih memberi kesempatan
sebuah karunia tetaplah menjadi karunia, ketika hati menerimanya dengan ikhlas maka keindahan terwujud menjadi nyata. ribuan debu yang mengepul di padang penantian, tersibak menjadi jalan terang berpengharapan… sebuah asa ditambatkan disana, untuk meraih cita-cita tertinggi : keridhoanNya.
episode kehidupan terlipat ke masa lalu dan berganti dengan halaman baru, ada banyak warna yang ingin aku kenang tapi lebih banyak lagi warna yang ingin aku lihat di bercahayanya masa depan… "aku" berpendar menjadi "kami" dalam itu dan berusaha menggapai cita tanpa rasa jemu…
jika bingkainya tak pas karena warna yang kontras, kami membalutnya dengan kertas yang pas agar harmoninya terlihat…
Jika tidak match karena background yang berbeda, kami menambahi pernak pernik agar kombinasinya menghasilkan pembaruan yang artistik…
Jika ia tergantung terlalu tinggi didinding cita-cita, kami tidak akan menurunkannya agar dapat menjangkaunya, tapi kia buatkan tangga agar setinggi apapun cita-cita itu tetap dapat diraih…
Jika karena angin ia tergoyang, kami bersiap dengan segala daya agar tidak jatuh dan menguatkan kembali kaitnya dengan kebersamaan agar tetap di posisi yang tepat.
waktu mengembalikan setiap insan ke dalam takdirnya, sejauh apapun ia berjalan tak kan pernah ia menuju kecuali ke pangadilanNya yang pasti. dunia hanyalah sarana perjalanan menuju kehidupan kedua yang kekal, jika setapak jalan ini berlaku di garis takdirku : aku beryukur masih dapat meraihnya…
aku bersyukur… Allah masih memberikan kesempatan ini kepadaku…
Rabb… terimakasih Engkau berikan kesempatan ini…
