Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: agama, angan, astagfirullah, cinta, dien, dunia, generasi terbaik, hakikat dunia, islam adalah kebenaran, kesadaran, Kesuksesan, menggapai kesuksesan, merana, nikmat, sengsara, sia-sia, Surga
Tinggi menjulang dalam angan kita, sebuah bayangan masa depan gemilang penuh kebahagiaan, bermandi cahaya dalam kamar-kamar yang merindu setiap insan, membentang keindahan tak terlukiskan dengan segala keinginan yang dikabulkan, begitu dekat dan begitu mudah. Ujung harapan itu begitu kemilau, aku ingin terpesona olehnya dan menjadikanku terus menatapnya, mengunci mati dalam hatiku dan menjadikanya sesuatu yang kuperjuangkan selalu.
Namun…
Apakah angan itu cukup saja bagiku, menuliskannya, mengucapkannya sesekali dan melupakannya sepanjang hari?
Sangatlah indah ketercapaian itu, dan beratlah dirasa perjuangan kesana, ketika azam ini memenuhi kalbu dan mantab membatu dalam tekad, terbentanglah tapak-tapak harapan menuju gemilang cahaya kesuksesan, diperjalanannya terasa beban itu akan memuncak berat, langkah-langkah gontai menanggung janji-janji sendiri, kalbu yang kuat membaja melebur dalam kelemahan dan tercerai-berai menjadi sisa-sisa asa yang makin menghilang.
Astaghfirullah…
Jikalau kita tatap awal perjalanan ini atau ditengah-tengahnya, terasa semua itu menjadi beban yang siap kita letakkan setiap saat, kita tinggalkan dipinggir, dan membiarkan diri menikmati saat-saat dunia, merayakannya dan bercengkerama dalam rencana-rencana pendek yang mudah dan murah. Tapi jika kita tatap ujung perjalanan ini yang hanya ada dua pilihan : NIKMAT atau SENGSARA,betapa semua usaha-usaha itu bukanlah beban sama sekali, semua itu adalah proses yang pantas dan wajib kita perjuangkan, bukan untuk siapa-siapa tapi untuk diri kita sendiri. Pantasnya kita selamat dari setiap kerikil yang menghadang untuk tekad sekuat baja yang memaku kalbu di kesadaran tertinggi, tapi nyatanya : kita bergelimpangan menjadi korban-korban kebodohan kita sendiri.
Luar biasa dan takjub : bagi mereka yang telah memilih jalan ini tanpa ragu, kuat seteguh karang berjalan di zona peperangan hawa nafsu, tidak goyah dan istiqomah. Keluar sebagai pemenang yang dihadiahi surga dan melihat wajahNya. Generasi terbaik umat ini yang mungkin tak kan pernah hadir lagi dalam sejarah kehidupan dunia …
Mengharum namanya bersama kecintaan mereka pada Tuhan Sang Pencipta. Menoreh dalam prasasti kekekalan segala kebaikannya yang membubung tinggi menembus setiap angan kefanaan. Keindahan jiwa-jiwa perindu, yang tetap khusyuk diantara anak panah yang berterbangan dan pedang berkelebat. Saat darah mengucur diperjalanan itu, tak ada beban diwajah-wajah mereka, tak ada duka, tak ada rasa berat yang ditanggungnya. Mereka menatap ujung perjalanan yang berkilauan penuh kenikmatan, melupakan setiap luka dan melaju menggapai kemenangan dengan tetap istiqomah dijalanNya.
Sedang disini, betapa banyak kehidupan berakhir sia-sia, merana sepanjang hayat dan mati untuk sengsara
Astaghfirullah…
Rabb… kesadaran itu seperti burung, hinggap sesaat dan terbang jauh entah kemana, sementara waktu untuk berbekal makin menipis.
jikalau kemilau itu bukan angan semata, pandu kami Rabb, menggapainya tanpa lelah sampai kapanpun… Amin
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: Bahagia, cinta, Kebahagiaan, Persahabatan, Persaudaraan, Saudara spiritual
"Some people say the happiness is the money..Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: Aib diri, cinta, harapan, Hati, Hidup, Kembali, Mati, Palsu
Aku bergerak di semenanjung harapan yang teronggok masgul diujung daratan, buah mimpi yang tergeletak mengurai kusut jalinan langkah yang tertempuhDiarsipkan di bawah: hikmah | Tag: Cercaan, cinta, Dosa, Futur, Hati Nurani, Iman, Jasad, Keangkuhan, Kebahagiaan, Kemalasan, Kemudahan, Kubur, Pengampunan, Rindu
Degupku di nafas tersengal, sesak mengalir di nadi kefuturan
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: cinta, Ihklas, Perubahan, Rindu, Syukur, Tobat
Luluhku dibelantara ketakjuban yang tak berakhir, disemestaNya aku bersujud mengharap satu : kerinduan ini akan terlabuhkan….
diantara puing-puing ini.. aku mohon pengampunanMu…
aku rindu padaMu ya Allah…
Terhenyak dalam perenungan kesekian kalinya, ketika kudapati sebuah perubahan telah melemparku ke atsmosfir ketidaksyukuran dan ketidakihklasan…. dalam tataran jiwa aku bergolak mencari identitas lama yang coba kubangun dan kutemukan ia menjadi berita usang sobekan koran tua disudut tempat sampah di pinggiran yang kotor…
Ada kepingan kecil ketidakselarasan yang kujadikan sebuah bongkahan pertentangan yang membara sebagai ketapel konfrontasi kepada siapa saja yang melintas di medan peperangan yang kukobarkan, astaghfirullahal’adzim….
Sungguh naif : jiwa yang hina mengais ketidaksyukuran dan mengumpulkannya menjadi amunisi kekecewaan, mengharap sebuah pengakuan besar dari setiap langkah kecil yang kulakukan.. Prasangka-prasangka buruk masih berkembang pada diriku… entahlah.. mungkin aku tidak ikhlas melakukan semua ini… aku membiarkan suasana negatif berkembang di sekujur tubuhku, aku bahkan menyelaminya untuk mendapatkan posisi nyaman sebagai bentuk pertahanan ketika emosiku terganggu : cara yang lemah menutupi kelemahan… astghfirullahal’adzim…
Rabb maafkan hamba ya Allah.. aku memanipulasi keadaan untuk mendapatkan pengakuan….
Berdetaknya jantung ini adalah tanda masih adanya kesempatan berubah yang Allah berikan, jika detik telah melebur dalam kedasyatan hari yang dijanjikan maka tak satupun jiwa dapat terlepas dari kengeriannya, hingga sangkakala ditiup untuk yang pertama sesungguhnya permadani kemudahan telah tergelar, untuk diri yang sadar diri : untuk apa ia diciptakan dan pada siapa ia akan kembali… betapa mahalnya tiap saat tergulirnya waktu, yang tak akan kembali meski berharap sampai berdarah-darah..
saat seharusnya untuk menuangkan karya terbaik untuk orang-orang tercinta, memberikan mereka kasih sayang dan cinta dengan tulus dan ihklas, memberikan seluruh hidup untuk sang Kholiq dan menuangkan ke jalan kebenaran seluruh energi penghambaan untuk meraih ridhoNya.
Rabb… jika masih tersisa untuk diriku kebaikan, sungguh tak satupun nikmatmu yang mampu kubalas, meski aku bersujud sepanjang hidupku tak akan mampu menggantikan tiap nikmat yang Engkau curahkan kepadaku…
Rabb… jika masih tengadah tangan ini memohon nikmat lagi dariMu, sungguh betapa kurang-ajarnya aku tidak bersyukur atas nikmatMu…
Rabb… jika kebaikan yang kulempar adalah kail yang kuharapkan mendapatkan ikan besar imbalan dari mahluk, sungguh kehinaan telah meliputi diriku, menjual kemenangan disisiMu dengan dunia yang fana…
Rabb… jika masa menungguku kembali… tak ada satu jalanpun yang akan kutempuh selain kepadaMu… lapangkan untukku ya Allah…….
Sisakan untukku ya Allah… kesempatan kembali kepadaMu dalam ridho dan ampunanMu…
Amin…
