lacur aku disembab hari
dikerumun pemakan bangkai di gurun yang menyengat
kudapan tiap pagi adalah bara api
sempit terkungkung
terkelupas dari satu mencerai-berai
memisah dalam semu mencabik sempurna
selayaknya saja berjalan
entah berapa lagi dapat bertahan
guguran itu makin jelas
tiap masa terlewat membuatnya makin nyata
berkobar-kobar mengancam jiwa
Semin, 18 Januari 2011

(04.00) merinding …. memang hebat pujangga kita ini. salut
Maturnuwun.. tapi bukan “Mas Din banget” ni hehehe, kritiknya mana?
masih belum berhasil memprosakan puisi diatas..orang awam memang sulit memahami kata-kata para pujangga. huft. intinya terus memperbaiki diri. ya bersama-sama tentunya..hehehe..
nuwun berkenan mampir..,
oke memperbaiki diri dari semua sisi yang mungkin, semoga bara itu menepi di pinggir dan membiarkan lewat si fakir ini
apakah yang membuatnya terus bertahan?
janji apakah yang dia nantikan?
jemari terkatup, tunduk pada semu sang jiwa
letih melunglai dalam ucap “inilah takdirku”
memegang janji : semua akan berbalas sempurna