Adakah ia untukku juga?
Pagi menyemburat dalam kuning kemerahan, langit terasa hangat. Bulan tanggal setengah tertinggal di awan, terlambat masuk ke peraduan dan rela terpanggang matahari pagi yang memudarkan sinarnya, hingga jadi bongkahan pucat yang makin tersamar.
1 Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
April 1, 2009, 6:03 am
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: hikmah, Kagum, Pagi, Perjalanan, Sempurna, Surga
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: hikmah, Kagum, Pagi, Perjalanan, Sempurna, Surga
Pagi menyemburat dalam kuning kemerahan, langit terasa hangat. Bulan tanggal setengah tertinggal di awan, terlambat masuk ke peraduan dan rela terpanggang matahari pagi yang memudarkan sinarnya, hingga jadi bongkahan pucat yang makin tersamar.di jembatan itu aku melambatkan laju motorku, 60km perjam cukuplah…
Pandanganku membabat habis lanskap jelita dikanannya : sebuah goresan hijau tersaput lembut kabut putih tipis, sungai yang bening berkelok dengan tekstur bebatuan hitam keras tersembul disana sini. Background lereng lereng bersih hijau gelap kebiruan, Dua gunung mencuat perkasa menembus lukisan langit dan menancapkan puncaknya di pelukan awan. Disebalah kiri jejalan pegunungan tersamar dalam selaput tipis putih, hamparan hijau malu-malu terbangun dari tidur, sebuah keluasan yang tanpa batas dan keberlimpahan yang menata dalam ruang bumi maha luas, subhanallah…
Hanya kurang dari 20 detik saja, aku melintas jembatan itu : tiap hari.
Diantara kecepatan keterburuan atau kesempitan waktu yang menghimpit di 20 detik perlintasan itu, begitu banyak kelapangan yeng tergambar tergoreskan sempurna, karya keperkasaan sang Kholiq.
Jikalau tergelar dihadapan mata : ukiran sempurna itu : warna-warna, tatanan kedasyatan penciptaan ini sungguh luar biasa.. decak kagum tak cukup melukiskannya, ribuan keindahan dan keindahan, keindahan dan lagi.. keindahan..
Aku jadi teringat surga :
satu titik akhir dalam kehidupan, surga yang seluas langit dan bumi…
keindahannya tak terbayangkan, belum pernah terlihat, belum pernah terdengar, belum pernah terkecap, belum pernah tercium, bahkan belum pernah terbersit dalam bayangan…
keindahan yang tak terlukiskan, kenyamanan tak tertandingi dalam kekekalan
surga itu…
adakah ia untukku juga?
1 Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Entah ke berapa kali.. Kutulis kalimat-kalimat itu Kuselami intinya, kadang beberapa kali ganti kalimat untuk kombinasi kata yang pas aku menulis untuk sesuatu yang coba kufahami, ia kadang mengalir saja membentuk paragraf yang mengungkap sebuah kisah..
saudaraku… njenengan sebenarnya dong dan tidak blong..
Komentar oleh guss Mei 27, 2009 @ 8:22 pm