Menghidupkan Kembali Hati yang Mati
Aku bergerak di semenanjung harapan yang teronggok masgul diujung daratan, buah mimpi yang tergeletak mengurai kusut jalinan langkah yang tertempuh
Maret 9, 2009, 7:03 am
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: Aib diri, cinta, harapan, Hati, Hidup, Kembali, Mati, Palsu
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: Aib diri, cinta, harapan, Hati, Hidup, Kembali, Mati, Palsu
Aku bergerak di semenanjung harapan yang teronggok masgul diujung daratan, buah mimpi yang tergeletak mengurai kusut jalinan langkah yang tertempuhkesadaran dari ilusi panjang terasa menyeretku menjauh dari pusaran cinta sang Penguasa, rasanya : tidak ada lagi gemercik embun membasahi pipi ini selama masa-masaku kini, era ketundukan itu telah lewat, berlalu seperti hembusan angin dipadang gersang, membawa tiap tetes terakhirnya menuju ketiadaan …
Apakah aku telah mengukir cintaNya dalam hatiku dan menjadikannya monumen yang mengekal dalam hidupku?
apakah aku telah menanam syariatNya dalam tiap lahan perjalananku dan menumbuhkannya menjadi hamparan hijau ketaatan tanpa satupun hama dosa sanggup hinggap merugikannya?
apakah aku telah mendapatkan semua yang aku inginkan melalui do’a-do’aku dan menjadikannya sebuah keberuntungan yang terwujud tanpa satupun meleset dari perkiraan hingga tak ada lagi kekhawatiran antara aku dengan Tuhanku?
Sungguh kurang ajar! : konspirasi mahluk dan hawa nafsunya telah menjadikannya pembantah yang nyata, mengikuti keinginan melebihi kebutuhan, memasuki dimensi keterbebasan dalam syariat yang menuntut pertanggungjawaban..
akal licikkah ini? sebuah trik berbelok dari jalan yang lurus untuk sebuah rihlah jiwa dalam lembah ketidaktaatan…
memalukan…kepalsuan besar dibungkus kemasan paling elegan, drama topeng diatas panggung sandiwara melakonkan kisah kemalasan dan kesia-siaan dan berharap happy ending..
realitas semu di altar kepalsuan para penyembah hawa nafsu, tak lebih sebuah onggokan daging busuk menunggu dilempar ke mulut srigala.
ketercapaian seperti prestasi di puncak tertinggi, berbangga diri membusung dada sepanjang arena, syukur lisannya telah melegitimasi keberhasilannya adalah karena usahanya, bukan karena kehendakNya..
padahal disana… didalamya.. diantara nafsu yang membelitnya : ada jiwa yang kering sedang meronta butuh air, gemertak kegersangannya mengepulkan hawa panas, terasa berdenyut tak henti sampai ke ubun-ubun. hati yang hitam legam karena kemaksiatan, tak lagi mampu menerima cahaya kebenaran meski kepala mengangguk-angguk seribu kali…
Naif!
jiwa itu memenjarakan dirinya dalam rutinitas yang makin kering, keindahannya hanya ada ketika fajar dan lenyap bersama naiknya sang mentari ke penggalan hari. langkahnya gontai disapu angin sepi, diperjalanan kemarau paling terik, menuju sebuah titik lontar : langsung ke neraka….
Astagfirullahal’adhim…
seribu cermin tak kan mampu membuka aib diri, gajah dipelupuk matapun tak akan pernah tampak ….
Rabb… tak ada dariku keterlepasan pada kebutuhan akan cintaMu, seperti mahluk daratan butuh udara untuk bernafas, mutlak! alangkah indahnya hari ketika rajutan cinta itu bergelayut memanjang dan makin rapat, tak satupun celah memungkinkan untuk berlalunya detik tanpa cintaMu, karena Engkau adalah segala-galanya yang menjalinkan cinta dalam pergerakan semesta. tapi mengapa seribu hujan tergores di lembar kehidupan berlalu saja… dan aku masih kekeringan…
Rabb… aku ingin hujan itu membuatku terbangun dari keterlenaan ini…
menyegarkanku, menghidupkan kembali hati yang mati…
7 Tanggapan
Untuk Satu Titik Pemberhentian Lagi
Degupku di nafas tersengal, sesak mengalir di nadi kefuturan
Maret 3, 2009, 7:54 am
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: Cercaan, cinta, Dosa, Futur, Hati Nurani, Iman, Jasad, Keangkuhan, Kebahagiaan, Kemalasan, Kemudahan, Kubur, Pengampunan, Rindu
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: Cercaan, cinta, Dosa, Futur, Hati Nurani, Iman, Jasad, Keangkuhan, Kebahagiaan, Kemalasan, Kemudahan, Kubur, Pengampunan, Rindu
Degupku di nafas tersengal, sesak mengalir di nadi kefuturanku lihat bacaan itu makin kabur, warnanya tersamar dalam kemalasan akut
tubuh gontai tak tegap di detik-detik terakhir penggalan malam
dan bingkai hari itu pecah berantakan bahkan sebelum fajar terlahir
cercaan jiwa bagi si sakit yang mengadu bukan pada tabibnya
sia-sia belaka
Tuhan…
jika kutatap langit mendung sore ini, aku hampir tak mampu lagi berharap untuk laku hidup yang terlunta dalam nista
jika kuragu dalam kesesatan apalah bila aku berharap, keabadian akan menyambangiku dalam siksa
Tuhan..
tapi Engkau maha pengampun
Setetes harapan dalam benih kehijauan yang tumbuh semi di dasar hati, jikalau semua tertabur sepi aku berharap langkah ini masih akan bertaut kepadaMu.
kemuliaanMu adalah pemenuh kehampaan yang tertinggal di hadapan langkah-langkahku
Engkau yang mengisinya hingga berlimpah kemudahan…
jalan ini berliku sampai ku lihat firmanMu terbaca di sisi langit, menggema menerang tanpa tertentang
menyisiri kehendak memilah niat dari debu ketidakikhlasan
menemukan sekeping hati nurani dalam sampah keangkuhan
Tuhan…
malunya menatap kuasaMu dalam kedip dosa yang menggunung
sungguh luka tak akan terasa ditubuh yang telah mati
diam meski air garam tertuang di luka yang menganga
Tuhan…
untuk satu titik pemberhentian lagi, aku berharap
Terkubur syahadat dalam ampunanMu
bersyariat dilipatan kafan yang membungkus jasad yang Engkau ridho kepadanya
diturunkan dalam dekapan bumi yang menanti kiamat dalam senyum kebahagiaan
