Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: cahaya, harapan, hikmah, janji, jiwa, keimanan, keyakinan, lautan, masa, Rindu, sajak, takdir
Segenggam debu tertabur diwajah sepi… tergeliat terkesiap dalam roman wajah tergagap, ada apa dengan masa?…. adakah jiwa terjaga lebih lama?, hingga saat takdir mempertemukan ruh ke padaNya ia sudah bersiap-siap
Waktu ini, sebuah kapal yang gagah bisa saja tenggelam dalam hitungan detik, tertelan gelombang dan karam tanpa terlihat bekas-bekasnya. Sementara kapal sederhana tampak berlayar damai di lautan ini, meski oleng sesekali ia tak sampai tenggelam. Dalam badai yang kedasyatannya sama ia mampu bertahan…
setiap diri adalah kapal-kapal itu, di dunia fana ini mereka berlayar membentangkan masa depan cita-cita ke jalur yang penuh ombak badai, sesekali terlihat pulau harapan di seberang sana, sebuah titik di kaki horison, timbul tenggelam… harapan yang benar dengan keimanan yang terjaga akan mengantar kapal-kapal itu ke pulau tujuan meski jauh dan penuh ombak, keyakinan mendekatkan yang pasti dan menjauhkan ketidakpastian, harapan yang benar akhirnya akan tertambat di pantai yang benar, sungguh : setiap usaha pasti berbalas sempurna.
Sementara beberapa bersusah payah dengan segala cara, pulau harapan yang lain yang tak jauh, terlihat berwarna dan bercahaya kemilau : begitu menjanjikan… sayang, ketika ia sudah begitu dekat ternyata hanya fatamorgana.
Sajak lautan ini masih akan berirama, mendendangkan keberhasilan sekaligus kegagalan. di pelabuhan yang mana jiwa ini ditambatkan, disanalah berlabuh segala harapan : titik di kaki horison atau di bercahayanya fatamorgana.
& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subhannallah,
Sajak yang inspiratif yang saya yakin tertulis dari hasil sebuah kontemplasi.
Jazaik Allahu Khairan.
Wassalam
Komentar oleh RayonSoleil Desember 20, 2008 @ 8:05 amBaikkah jika bahtera di tambatkan di pulau persinggahan, bermaksud menata kembali bekal perjalanan, menambal kembali layar yg sedikt terkoyak?
Komentar oleh indra Januari 15, 2009 @ 5:14 amAkankah memudar titik harapan? Atau lebih ironis lagi, tidak sampai kepada titik tujuan. :’)
#RayonSolail : sip! waiyakka
#indra : sip mr.. bukankah rehat sebentar adalah bagian dari usaha untuk tetap sampai ke tujuan? itu adalah bagian dari strategi mencapai tujuan yang efektif dan efisien..
Komentar oleh guss! Januari 15, 2009 @ 7:56 am
iya jadi berharap pada angin, klo bisa mendayung sama2 kan cepet nyampenya..
Komentar oleh indra Januari 19, 2009 @ 4:59 amass
Komentar oleh uus Januari 21, 2009 @ 6:34 amsubhanllah….
sebuah karya yang inspiratif dan penuh kereligiusan…
gmn kbrnya skrg pak?
#indra : jadi ingat masa itu ya ..hehe.
ini bagian dari pelayaran disamudraNya yang akan ada pembagian terbaik bagi hamba-hambaNya, siapa yang akan membersamai mengarungi samudra ini pastilah sudah disiapkan dengan sempurna, tinggal mendownloadnya dengan downloader terbaik agar sampai disisi kita sebagaimana do’a yang pernah kita tambatkan…
#uus terimakasih… sip! alhamdulillah baik dan fress
Komentar oleh guss! Januari 24, 2009 @ 10:38 amanalogi yang bagus.. btw, nice blog nih..
Komentar oleh ariefdj™ Januari 29, 2009 @ 6:46 pm#ariefdj™ Sip.. blog Anda juga nice lho.. trims link-nya
Komentar oleh guss Januari 30, 2009 @ 7:59 amTerima kasih untuk semuanya,
Komentar oleh Yukhariful Februari 7, 2009 @ 4:13 pmMoga2 dibalaz oleh Allah SWT dengan Surga
satu hal yang pasti..sebaiknya berlayar dengan kapal selam.kalau terombang ambing air kan bisa nyelam. dan juga bawa kompas, peta, GPS (General Positioning System), internet, dan guide. insya Alloh tujuanya jelas [bukan fatamorgana], cepat sampai dan aman. hehehehe
keterangan:
kapal selam = iman yang mendalam, kuat terpatri di hati
peta = petunjuk hidup
GPS= doa (karena kita akan selalu dipandu oleh Alloh)
internet = teladan para salafusholih dimana kita akan mendapat apapun keterangan megenai bagaimana hidup yang benar.
guide= kyai, ulama, teman perjalanan yang sholeh
perumpaan yang aneh tentunya. tapi ketika yang menulis juga orang yang aneh maka menjadi WAJAR. hehehehehe
Komentar oleh mast April 24, 2009 @ 10:50 pmAssalamu’alaikum…
Komentar oleh indrasn Mei 9, 2009 @ 3:10 amMau tanya ini, boleh?
Mmmm bahan bakarnya apa yah???
#mast : ehmm.. perumpamaan yang tidak terlalu aneh kok
masih bisa dimaklumi.. hehehe
Komentar oleh guss Mei 27, 2009 @ 6:43 pm#indrasn: wa’alaikumsalam mr.. bahan bakarnya yang lebih tahu si “mast”, dia yang membuat perumpamaan2 yang lebih jauh lagi, pasti lebih faham