GUSS!


DIALOG HATI
April 24, 2007, 7:22 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag:

Aku menyudut dalam ruang sempit yang menghimpit, tak kuasa aku bertahan sedetik saja dari sisa-sisa ini kecuali uluran tali kasihNya masih dalam genggaman.
membiarkan hati dalam gemerlap dunia sedetik saja, membuatku kering dan gersang, saat ku biarkan ia berpijak disana, aku tak sanggup menariknya penuh dalam dekapan, melainkan ia meronta-ronta tidak mau lepas dari kenikmatannya.

Sisi hati yang bercahaya itu meredup, ketika fitnah menghujam dari seluruh penjuru angin…
noda hitam itu terakumulasi dalam kekuatan dasyat mendorong keluar kesucian hati, dan menjadikannya rumah yang nyaman bagi nafsu dan kemungkaran.

Kalau harus memilih.. sesungguhnya pilihan itu terbuka luas sejak bumi di hamparkan untukku, ketika dunia mewujud dalam semua indraku, Dia telah memberikan keluasan pilihan..nikmat atau siksa………….

Ketika waktu beranjak dari putarannya menuju titik penghabisan, sesungguhnya kesempatan itu makin tipis dan berkurang, kalau aku merasa masih punya kesempatan untuk menunda lagi, dan lagi.. sungguh itu adalah tipuan yang besar dan dasyat..

Sadarkah aku..?

Kemarin dan hari ini, atau esok hari yang tidak pasti, adalah sisa-sisa yang makin tak teraih bagi jiwa yang merindukan ketentraman sejati. Ketika harapan akan adanya waktu yang lebih baik di kemukakan sesungguhnya itu hanyalah penundaan menuju kerugian yang pasti akan disesali…

Kalau sudah pasti akan menyesal mengapa tidak mempersiapkan sejak sekarang? Naif sekali!

Waktu telah membangun dirinya sendiri untuk kemudian aku hancurkan dengan menunda-nunda dan tergesa-gesa, ketika batasan telah terlewati, penyesalan yang akhirnya didapat.

Seandainya ada keluarga, teman, sahabat atau saudara yang mau mengingatkan - dalam dunia penuh fitnah sekarang ini - kehadirannya adalah pembangun jiwa dan memperteguh keyakinanku akan kebenaran. Kebenaran bahwa semua yang aku jalani adalah fase mengumpulkan bekal untuk perjalanan panjang tak berakhir di akhiratNya nanti.
Dialog hati bukanlah tentang dunia dan
perhiasannya, atau gemerlapnya yang warna warni, tapi saling mengingatkan pada hikmah dibalik peristiwa, pada hari akhir yang pasti terjadi, pada ketundukan hati menjaga perintahNya menjauhi laranganNya, tentang merajut asa di sepertiga malam, menyelami kitabNya, berpayah-payah mendatangi jamaah, berdiri dan sujud saat matahari sepenggalahan naik, membagi kemanfaatan kepada sesama, menjaga kesucian diri, memperbanyak istighfar atau berdiam diri sebagai refleksi bahwa menjaga lisan adalah benteng yang kuat dari terjerumus ke dalam kehinaan.
Meskipun semua itu terberai dalam serpihan, aku berharap mampu memungutinya satu persatu sambil menjalani hidupku, dan berharap suatu saat nanti akan menjadi kendaraan menuju taqwa yang sesungguhnya

Dialog hati…. dialog dari kefanaan kepada kekekalan, dari fatamorgana kepada realitas yang pasti mewujud….
Dialog yang mengkonfirmasi antara tindakan dan akibatnya, antara amal dan balasannya.
Dialog yang menggugah kesadaran diri akan kehakikian penciptaan, pertanggungjawaban dan hisab yang pasti hadir.

Bukan berbantahan, pembelaan diri, penghujatan atau membangun komunitas rasio yang naif, sementara hati berkarat dan sebentar lagi di jual murah dipasar-pasar dunia yang makin menua.

Rabb.. tak kuasa aku menanggung semua beban kehidupan ini andai Engkau tidak meringankannya untukku, sendainya aku merasa nikmat dengan dunia, sungguh itulah cobaan besar yang mudah merenggutku dari jalanMu
Rabb.. hanya perlindunganMu dan KuasaMu, kasih dan sayangMu, rahmat dan ampunanMu yang membuatku bertahan…
surga-neraka

“Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya” QS. Al Mu’min 18



Samudra Anugrah dalam Titian Cobaan
April 1, 2007, 7:42 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag:

green Hari-hari terakhir ini aku mendapat anugerah besar dalam hidupku, ketika sebuah cobaan berangsur-angsur terkurangi, meski belum benar-benar hilang, itu adalah permulaan yang luar biasa dari takdirNya untukku..
Alhamdulillahirobbil ‘alamin

Ketika aku menyadari betapa luar biasanya nikmat yang Dia anugerahkan aku hanya bisa tertunduk, malu rasanya menghadang hidup dengan ketidaktaatan dan ketidakistikomahan sementara nikmatnya terus mengguyurku tanpa henti..
Ketika aku terperangkap dalam sebuah masalah yang kelihatannya sulit untuk diuraikan aku kembali kepadaNya.. aku mengadu kepadaNya…
Aku mencoba menerima takdir ini.. tapi :… aku tidak seteguh yang ku kira.. aku mundur beberapa langkah dari titik pencapaianku sebelumnya, aku tidak mampu istikomah.

Namun Allah Maha Pengasih dan Penyayang
arRahman yang sesungguhnya arRahim yang tiada batasnya.
Ketika aku menyadari kesalahanku, aku menguraikan kembali jalinan kusut masalahku dalam do’aku padaNya, dan dengan tetap ikhtiar semampuku, akhirnya Dia membalas do’aku dengan mengurangi masalahku..
Dia…. Benar-benar Maha Kuasa atas segala sesuatu
Tidak ada yang mustahil untukNya, tidak ada!
Rabb…terimakasih.. syukurku untukMu
Alhamdulillahirobbil ‘alamin

Saat ini, aku makin menyadari betapa nikmat hidup jangan pernah disia-siakan. 5 Perkara sebelum 5 perkara : sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati .
Karena setelah semua itu hilang, penyesalanlah yang akan didapat. Hidup hanya sementara… dan di akhirat nanti tidak akan ada lagi kesempatan. Dan jarakku kepadanya tidak lebih dari satu helaan nafas saja…….
Astaghfirullahaladhim….

“Wahai orang-orang yang lalai, bersungguhlah dalam perjalanan.
Kau hanya bersenda gurau dan sedikit berbekal.
Andai kau tahu apa yang bakal engkau temui esok,
Pasti kau akan lunglai karena ratapan dan tangisan.
Murnikan taubatmu, kau akan mengambil hasilnya.
Sungguh sisa umurmu tinggalah sedikit.
Janganlah kau tidur saja kalau kau memang orang yang cerdas.
Karena sudah cukup lama, kau tidur terlena”*)


*) Al-Fawa’id 198 (secara ringkas) – dari “Muhasabah Menuju Penyucian Jiwa – Abdul Malik bin Muhammad Al-Qasim – halaman 23 paragraf 3 - Pustaka Arafah - 2005