GUSS!


Mereka Akan Mendatanginya, Sekalipun Dengan Merangkak
Maret 17, 2007, 2:02 am
Diarsipkan di bawah: Uncategorized

sky
Pagi masih sunyi.. ditempat lain mungkin aktifitas sudah mulai,
sementara aku masih terperangkap dalam tidurku, entahlah aku mengantuk sekali pagi itu..
ketika aku terjaga alunan pujian dari masjid telah memanggilku, aku melongok jam disampingku : jam 04:35 !! telat!!
bergegas dengan cepat sambil terhuyung, sarung dan penutup kepala kuraih dan segera menghambur keluar menuju panggilan yang kelihatannya akan segera berakhir..
dan baru keluar beberapa langkah : iqomah telah dikumandangkan! aku berjalan cepat setengah berlari (….darurat!) menyusur jalan remang menuju panggilan yang tidak lagi terdengar … akhirnya dengan tergopoh sampai juga aku di jamaah itu, mereka telah rukuk yang pertama …
sekali lagi (dari kesekian kalinya yang tak terhitung..) aku terlambat..

Rasanya pagi itu adalah keterlambatan yang sangat fatal.. bagaimana jika itu adalah gerbong keselamatan yang terakhir dan aku bukan salah satu penumpangnya…??
bagaimana jika pagi itu adalah saat terakhir keberangkatan dan aku tertinggal sendirian….??
adakah kesempatan lagi bagiku jika itu benar-benar yang terakhir..??

aku sedang tidak mendramatisir keterlambatan itu…
pagi itu aku benar-benar merasa : “tak ada kesempatan lagi”…
terpikirkan hariku setelah itu : amalanku yang biasa saja apakah sanggup berdampingan dengan maksiat dan kesia-siaan yang membebani timbangan perbuatanku. Sementara waktu bergulir terus tak akan dapat diraih lagi apa yang sudah terlewat.
aku hanya menakar betapa mahalnya kesempatan itu…

“... sesungguhnya apabila mereka mengetahui apa yang ada didalam sholat Shubuh dan Isya’, maka mereka akan mendatanginya, sekalipun dengan merangkak..” *)

merangkak !!!! …. astaghfirullahhaladhim..
adakah gambaran yang lebih dasyat dari itu ??

sebelum sampai waktunya aku benar-benar merangkak, aku ingin berjuang mendapatkannya…..penggalan pagi yang mungkin untuk yang terakhir kali…

*) : HR Ahmad dan An-nasa’i , sebagaimana yang tertulis di halaman 19 paragraf 4 “Misteri Shalat Shubuh” - dr Raghib As Sirjani - Aqwam 2007



Kekuatan Doa Membangkitkan Jiwa
Maret 12, 2007, 1:37 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag:

Sebelum fajar hari itu menyingsing, aku berikan jiwa dan ragaku sepenuhnya kepada penggenggam semua mahluk.. seandainya Dia memanggilku saat itu.. aku ingin berada dalam kesejukkan berpengharapan hanya kepadaNya.

Putaran waktu tidak menyisakan apapun dalam kehidupanku kecuali harapanku kepadaNya, karena yang berkait dengan mahluk akan menghilang bersama hembusan angin.

Dalam penggalan masa ini, aku menyadari keberadaanku telah menjadi pengisi hiruk-pikuk kehidupan, dengan segala konsekuensi dan warnanya yang beragam, aku menjelmakan diriku dalam posisi ego yang kadang tidak simetris dengan syariatNya, aku menyadarinya meski sering terlambat..
saat merepro kembali ingatan masa lalu, janji-janjiku sendiri : ternyata tidak ada yang benar-benar dapat kupenuhi kecuali penghianatan yang berulang dan berulang..

Kembali,
momen tahunan itu hadir mengingatkan aku akan janji-janjiku sendiri..
tentang pertaubatan yang kucoba bangun..

Disaat itulah aku tumpahkan harapanku akan masa depan kehidupan dunia dan akhiratku kepadaNya, dan insyaAllah aku mendapatkan kekuatan dari doa-doaku - kekuatan akan harapan - bahwa semuanya pasti akan terkabul, entah saat itu juga, entah akan ditunda dia akhirat atau diganti dengan sesuatu yang lebih baik bagiku menurutNya. Doa membangkitkan jiwa dalam tingkatan lebih tinggi pada harapan positif kepadaNya. Doa menguatkan sendi-sendi hari yang kulalui , kepada kepastian titik yang dituju, kepada cahaya yang bersinar dan menerangi semuanya.

Meyakini bahwa doa yang kupanjatkan akan dikabulkanNya adalah kekuatan itu sendiri, aku berharap itulah wujud penghambaanku kepadaNya, aku meyakini Dia yang memenuhi langit dan bumi dengan kasih sayang dan ampunan tidak akan menyia-nyiakan doa hambaNya. Dia berjanji dengan qalamNya dan Dia pasti menepatinya.

Aku ingin genggam sepenuh jiwa dan raga harapanku padaNya dengan doa-doaku, tiada yang berhak diharap kecual Dia, tiada yang membuka dan menutup hati kecuali Dia….

Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu”, maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS. Ali Imran 191-194)



Kembali ke Kematian
Maret 11, 2007, 1:51 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag:

ingat_1;
Aku masih tertidur lelap ketika isyarat pesan pendek berbunyi membangunkkanku : “bapaknya pak**** meninggal….
, terbayang dipikiranku kesedihan keluarga yang ditinggalkan, bulan-bulan terakhir ini almarhum terkena stroke dan perawatan sudah dilakukan dengan beberapa cara, dan akhirnya…..

 

 

Terlintas bayangan keadaan yang sama menimpaku…siapkah..??
inilah takdir yang tak terhindari, pemutus semua nikmat, penghenti semua amal, pelepas semua lencana keduniaan..
tidak akan ada yang mampu lari darinya, sekalipun berlindung dibalik benteng yang kokoh, jika sudah waktunya ia akan tetap menghampirinya. inilah titik yang sama dimana semua manusia menuju ….. : kematian

Aku hempaskan tubuhku diatas kenikmatan dunia, aku palingkan wajahku menuju arah kiblat sekedar memposisikannya agar nyaman bagi ragaku.. padahal : mungkin saja pesan pendek itu datang dari arahku dengan kabar yang sama…..
sesungguhnya seluruh hidup ini di perjuangkan untuk menuju pada kematian, kesenangan atau kesedihan bermuara pada kubur yang sama, harta dan kedudukan terhenti pada lubang yang sama….
Seandainya ia datang pada saat seorang hamba dalam keiklasan padaNya, dalam keimanan yang terjaga, dalam kebersihan dari dosa-dosa karena telah diampuniNya, pantaslah untuk tersenyum dan tenang …..

Tapi.. semua itu misteri yang hanya Dia yang tahu….
kapan ? dimana? dalam keadaan bagaimana? diterimakah amalku? diampunikah dosaku? ridhokah Dia kepadaku? …
sesering apakah pertanyaan itu aku ungkapkan kepada diriku sendiri..?? kelalaian pada kematian membuat aku mudah bersikap ringan dengan persoalan yang tidak ringan, menunda dan tergesa-gesa, atau sekedar berkunjung ke sebuah blog dan meninggalkan komentar yang - meski hanya satu kalimat - itu nantinya akan dikembalikan kepadaku dengan segala konsekuensinya, tidak satupun yang dilupakanNya…

Kembali ke kematian adalah titik balik kembali kepada fitrah mahluk, kembali kepada kehakikian penciptaan, kembali kepada kemurnian hati nurani yang selalu bertaut kepadaNya. Kembali ke kematian adalah solusi bagi banyak masalah kehidupan, pengerem segala tindakan dosa, penghambat perbuatan durhaka, dan penghindar dari perbuatan sia-sia..

Kembali ke kematian..
ke kematianku sendiri : saat jasad terbaring kaku, kain kafan putih menyelimuti…..



istighfar dalam kegersangan : rindu kesejukan
Maret 2, 2007, 9:39 am
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag:

lafadz_4

astaghfirullah…
dzikir pendek ini sering terlupakan.. ataupun kalau terucap tidak lebih sekedar ucapan bibir semata..
sementara hati yang kelam masih terus mengumpulkan amunisi untuk berbuat kemaksiatan.
saat kesadaran akan kesendirianku dalam mengadapi hisabNya hadir.. kadang terasa terlambat..
kenapa aku masih menambahkan lagi catatan keburukanku sementara nikmatNya masih terus berlimpah untukku ??…

manusia biasa..
pembelaan klise yang kucoba ketengahkan : “manusia biasa tidak lepas dari kesalahan dan kealfaan
tapi yang sebenarnya terjadi adalah : “manusia biasa tidak mau lepas dan senang berbuat salah dan alfa
pembelaan yang didorong oleh ketidaksadaran bahwa milikku didunia hanya sepenggal nafas yang tersisa.. dengan amalan yang sedikit (yang aku tidak tahu diterima atau tidak olehNya) dan dosa-dosa yang
menggunung tinggi (yang aku tidak tahu akan diampuni atau tidak olehNya)…

aku menyerah pada kekuatan setan?
mungkin itulah episode yang sebenarnya, saat kemaksiatan aku lakukan dengan kesadaran maka sesungguhnya setan bergembira, bertepuk tangan karena bertambahnya bala tentaranya.
sementara aku tidak sadar..
simbol-simbol ketaatan kepadaNya yang kukibarkan justru menjadi hijab antara aku dan tujuanku
simbol-simbol itu meluntur bersama guyuran kemaksiatan yang terus mengalir deras…

tipuan setan sangatlah halus… bahkan dalam ketaatan tersembunyi ria’ dan niat yang berganda…
astaghfirullah..

dalam keadaan seperti itu, aku ingin tenggelamkan diriku di danau kesejukan yang tak bertepi : kehidupan nabi, sahabat, dan ulama salaf, adalah mata air yang tidak pernah hilang kesegarannya, begitu murni, begitu bersih…

tertunduk disudutnya yang hening… bersama lembaran-lembaran yang membuat aku terpana dalam sirahnya yang menggetarkan…yang tak sanggup aku menjadi bagiannya meski hanya sejengkal…
kesejukkan itu teramat mahal, aku temukan dalam lembaran-lembaran teks yang tak menarik semua orang untuk menyelaminya… sementara diluar sana dunia begitu berbeda, begitu berwarna… tapi.. terasa makin kering…

lembaran-lembaran itu : kesegarannya adalah pelepas dahaga yang tidak akan pernah kering…