Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori | Tag: shortwave
(tanggapan atas acara spesial NHK World Radio Japan, Serial Bagian II “Pada Suatu Hari yang Cerah” sebuah fabel karya Yuichi Kimura - kelanjutan Bagian I “Pada Suatu Malam Berbadai” , yang disiarkan 24 Desember 2006)
Setelah penantian yang lumayan membuat penasaran, akhirnya hari itu tiba juga ketika “Pada Suatu Hari yang Cerah” terdengar mengalun mengungkap misteri kisah sang srigala dan sang kambing.
pembukaan kisah itu pada awalnya kurang “mengejutkan” karena langsung diketahui bahwa keduanya bersahabat dan kemudian janjian makan di puncak gunung batu.
sebelum cerita itu berlanjut… sepertinya rasa penasaranku langsung hilang dan terpikir bahwa kisah ini menjadi biasa saja karena tidak ada klimaks dan mudah ditebak : “happy ending” dengan mengabaikan fakta sesungguhnya “bahwa hubungan keduanya adalah pemangsa dan mangsanya - jadi tidak mungkin bersahabat”
… tetapi ketika cerita itu terus berlanjut….
mulailah kejutan-kejutan yang tidak diduga sebelumnya, membuat setiap penggalannya menjadi penuh tanda tanya yaitu : “apakah akhirnya sang srigala yang lapar akan benar-benar memakan sang kambing?”
dimulai ketika kambing tertidur… lalu pada saat keduanya berlindung di gua….ketika “kemudian terdengar suara kambing mengaduh kesakitan….setelah itu hanya terdengar suara langkah sang srigala” aku langsung berpikir : akhirnya srigala tidak mampu menahan laparnya dan mengabaikan persahabatannya dengan sang kambing hingga ia memakannya…ternyata : justru sang srigala menggendong sang kambing menuruni gunung batu karena sang kambing sakit…
WOW … cara bercerita yang benar-benar membuat kita menduga-duga terus bagaimana kelanjutannya. Bahkan diakhir cerita ini… ketidakpercayaanku bahwa persahabatan itu akan terus berlanjut masih ada, apalagi ketika… :”sang srigala membuka rahangnya lebar-lebar…”
aku langsung berpikir : inilah akhirnya! srigala tetap memakan kambing itu…
ternyata…..
LUAR BIASA.. ini cerita yang sederhana, tapi SANGAT MENARIK menarik karena jalinan cerita ini adalah potret kehidupan manusia
aku agak merinding saat mulai memikirkan hikmah yang bisa dipetik dari kisah itu !
inilah hikmah yang ku petik :
Pada dasarnya manusia hanya melihat pada penampilan lahiriah semata, penampilan luar yang tidak lebih dari sekedar topeng dengan make up tebal atau asesoris. Sehingga kita bisa memvonis orang itu baik atau buruk dari tampang luarnya saja, sehingga sulit bagi kita untuk jujur, ikhlas dan menerima apa adanya disaat kita sibuk memperhatikan penampilan luar yang kadang penuh kepura-puraan. Pertemuan sang kambing dan sang srigala di malam berbadai yang gelap gulita telah menelanjangi semuanya, tentang kejujuran, keiklasan dan persahabatan yang datang dari mata hati… bukan dari mata fisik. Apakah kita bisa seperti mereka, mengikrarkan persahabatan dengan hati bukan karena penampilan lahiriah dan niat-niat tersembunyi?
Dalam berinteraksi dengan manusia lain kita terbiasa untuk membebaskan pikiran kita, memikirkan banyak kemungkinan dari apa yang mungkin terjadi dalam hubungan itu, tentang apa saja yang mungkin ia akan lakukan pada kita, atau sering kita berpikir tentang kemungkinan niat-niat tersembunyi dari perlakuan baik orang lain pada kita. Sulit untuk tetap “positif thinking” apalagi kepada bekas musuh. Persahabatan sang kambing dan sang srigala ketika makan siang bersama di puncak gunung batu telah mengajarkan arti persahabatan yang sesungguhnya. Mereka menganggap tidak pantas berpikir yang negatif tentang sahabatnya. Ini luar biasa, hanya berpikir… sekedar lintasan di pikiran …. mungkinkah kita bisa seikhlas dan sejujur itu pada sahabat kita?, tidak mengkhianatinya meski hanya dalam pikiran kita?
Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita ternyata terlalu angkuh untuk menerima perubahan perilaku, yang terlanjur kita persepsikan “tidak mungkin terjadi”. Kita merasa ingin menjadi penentu dari kelanjutan episode orang lain padahal sesungguhnya kita tidak punya kuasa atas itu semua. Ketika Sang srigala benar-benar bisa menjadi sahabat yang setia bagi sang kambing, kita masih berpikir bahwa sang Srigala pasti memakannya juga –tidak mungkin ia yang pemakan daging bisa menahan diri dalam keadaannya yang sangat lapar, padahal makanan lezat ada didepannya – Ternyata …
orang bisa berubah meskipun kita terlanjur mempersepsikan satu karakter tertentu kepadanya..
Persepsi yang kita berikan pada orang lain lebih banyak karena pandangan kita yang bias oleh kepentingan-kepentingan kita sendiri. Seandainya kita yang menjadi sang srigala mungkin sekali apa yang kita duga sebelumnya bahwa srigala akan tetap memakan kambing … benar-benar terjadi. Dalam dunia nyata ini sebagian dari kita mungkin lebih “srigala” dari pada srigala yang sebenarnya.
Totalitas dalam persahabatan adalah ukuran kesejatian dari persahabatan itu sendiri, semakin total kita dalam bersahabat semakin sejati persahabatan itu. Kita lebih banyak bersahabat untuk hal-hal tertentu yang menguntungkan kita dan tidak merugikan kita, kita cenderung mengambil jarak dalam persahabatan ketika dan bersikap “siap lari” ketika terjadi masalah. Persahabatan sang kambing dan sang srigala telah membuktikan totalitas itu, ketika sang srigala bersedia menggendong sang kambing menuruni gunung batu karena sang kambing sakit, ia tidak memilih menunggunya saja.. sebuah langkah “bersahabat” yang sebenarnya lebih menguntungkan dan tidak terlalu merepotkan. Tapi Sang srigala bersedia mengambil resiko itu….
Dan yang terakhir… meski mungkin banyak hikmah lain yang tidak mampu kutangkap : persahabatan itu keseluruhannya adalah luar biasa, dua karakter yang berbeda , dua alam yang berlawanan dan menyatu dalam dinamika keiklhasan, kejujuran dan hati nurani.
Aku hanya bisa bercermin dalam kisah itu… akukah sang kambing yang mempercayai persahabatan sepenuh hati sehingga tidak ada keraguan sedikitpun kepada sahabatku?… ataukah sang srigala yang mampu menahan segala ego dan nafsu diri untuk mempertahankan persahabatan?…
Ataukah aku bukan bagian darinya… karena nilai-nilai itu terlalu angkuh untuk berubah?
Ataukah aku … adalah tokoh yang akan muncul dalam episode berikutnya yang hadir untuk menghancurkan persahabatan sejati itu?….
Cermin diri yang berharga.. hikmah mendalam yang tak mampu kuselami seluruhnya…
Terimakasih karena acara spesial ini membekas dalam guratan kehidupanku…..Semoga itu akan mengejawantah dalam perubahan perilaku yang lebih menghargai, jujur dan ikhlas… meski perlu waktu… proses menuju kesana tidak akan sia-sia.
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
luar biasa..
itulah kata yang tepat untuk melukiskan kuasa-Nya atas semua mahluk
hari ini dan kemarin bagi hidupku yang sederhana ini adalah ketetapan takdir yang sarat hikmah..
saat aku menulis ini teralun nasyid “takdir” dari Opick feat Melly, aku merasa maknanya bisa kuresapi
karena aku tidak terpisahkan dari takdir itu dan tidak terpinggirkan
dalam gulungannya yang pasti mengenai siapa saja. hikmah yang terdalam yang kupetik bahwa hidup ini mestinya berisi “keperdulian“. Apa saja yang kita kerjakan dengan mengandalkan ego kita sebenarnya adalah bentuk kesombongan. aku introspeksi …. bagaimana mungkin ketika aku mengatakan perduli, kalau saudara, orang tua atau teman harus terlebih dulu menyampaikan keperluannya padaku, bahkan mungkin dengan cara sedikit ekstrim kalau bukan karena ketidakperduliaanku pada mereka, tidak peka akan kebutuhan mereka, maka kata “perduli” yang kuakui telah ada pada diriku patut dipertanyakan….apakah benar aku telah perduli kepada mereka????betapa ego-ku telah menguasai berbagai hal dalam kehidupanku sehingga tidak ada yang tersisa selain kepentingan diriku dan bukan orang lain, mereka hanya mendapat sisa waktu yang kupunya itupun kalau ada..
inilah hikmah dalam yang kuraih saat ini, ketetapanNya yang berlaku bagiku adalah yang terbaik bagiku, saat aku tersadarkan akan hikmah dibalik kejadian.. aku semoga menjadi lebih perduli..
aku merasakan kebahagiaan saat bisa membuat orang lain tersenyum.. bahagia.. saat orang lain terpenuhi keperluannya meski dengan bantuan yang kecil dan tidak bermakna dariku.. sayangnya semua itu masih harus menunggu mereka menyampaikannya padaku… bukan hasil dari kepedulianku yang sesungguhnya..
semoga ini menjadi hikmah yang dalam yang bisa membangun jiwaku… Amin
Diarsipkan di bawah: First
ini adalah saatnya membuka lembaran baru kehidupan dalam dunia mayaku.. setelah beberapa saat mencicipi beta-nya fasilitas blog di bawah Yahoo!360*Blog, aku memutuskan untuk hijrah ke wordpress. Ada beberapa alasan pertama : di tempat baru ini terdapat lebih banyak fasilitas dan (mungkin) kemudahan, kedua bebas banner (sampai saat ini), ketiga ganti suasana. Pada awalnya agak berat juga pindah dari Yahoo!360*Blog yang bisa di manaj di Geocities, tempat situsku berdiam sejak beberapa tahun ini, tapi dengan alasan tadi akhirnya kepindahanku ini terjadi juga. Meskipun begitu tidak menutup kemungkinan suatu hari nanti balik lagi ke kandang lama… tidak begitu prinsip kan yang penting masih gratis!..
Blogging pada awalnya tidak begitu menarik bagiku, karena tampilannya yang text oriented, belum lagi tema nya kadang nggak pas dengan interestku. Tapi belakangan, setelah beberapa kali berkunjung ke blog saudara muslimku, blog menjadi begitu mudah untuk dimanaj dan interaktif, tema yang pas juga mudah ditemukan dan kebutuhan beropini dan berkomentarku perlu juga disalurkan. dan jadilah begini akhirnya. Untuk tulisan yang masuk katagori “penghuni lama” dan setumpuk grafis lain tetap kupasang di situs webku yang dipaksa-paksakan berdesakan dengan banner iklan Geocities, dan untuk tulisan yang lebih “up to date” disinilah adanya :akan ku tuang kerinduanku akan cinta-Nya…
keberpihakanku pada kemurnian penghambaan yang mencoba memenuhi hatiku…….
pertobatan yang aku rindu menjumpainya….
ketidakberesan hati yang perlu diluruskan…….
kejernihan dunia yang mestinya tidak dinodai….
dan titian menuju akhirat-Nya yang tetap harus ku perjuangkan sampai nafasku yang terakhir………aku mencoba (dan belum berhasil..) hidup yang sekali-kalinya ini bukan kesia-sian, jadi : berkatalah yang benar atau “DIAM”
pada sharing pertama ini, kurangkai kalimat yang menjadi “latar belakang masalah” dari tag line blog ini :
Penjarakan aku dalam cinta-Mu
Merenungi malam saat senyap terhampar
Tersadar betapa tiada segalanya
Kecuali kefanaan yang kan sirna
Ketika mengharap pada sesama,
tidak ada yang benar-benar
kecuali sementara saja
Hanya cintaMu yang kekal dan sejati
Yang tercurah tanpa batas
Yang tergelar sepanjang perjalanan
Kumohon cintaMu untukku
Untuk mahluk hina dina ini
Kumohon…
Jangan menjauh dariku
Karena cintaMu segalanya adalah kebenaran
Kesejatian yang tiada kekecewaan
Kesempurnaan …
Kemuliaan dunia akhirat
CintaMu kurindu sepanjang waktuku
Kugapai meski dunia menjeratku
Kuraih meski pedih menderaku
Kucoba tegar….menuju cintaMu
Hanya cintaMu
26 Syawal 1427H
