Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Mozaik Syawal (2)

Gema kedatangan bulan suci bersaut-sautan disemua tapak kolong langit. Semua siaga satu menyambutnya, sarung, koko dan peci siap digantungan. Mukena wangi dan putih bersih terlipat rapi siap dikenakan. Kurma, kolak dan gorengan tersedia lengkap di meja makan menyambut buka tiba. Segala-galanya berubah menjadi lebih religius sehingga bulan itu mengalir seperti air pegunungan yang bening dan bersih, begitu damai dan menenangkan. Setiap hamba seakan menyesuaikan dengan dibukanya surga dan ditutupnya neraka. Mereka tak lagi harus berjibaku melawan setan yang telah dibelenggu, hingga bisikan kebaikan lebih terdengar meski lemah dan sayup-sayup. Setiap ajakan kebenaran seakan genderang penyemangat yang ditabuh bertalu-talu, membangkitkan ghiroh yang berkobar menyala-nyala. Target ditetapkan dan angkatan perang berangkat menuju medan amal dan ibadah yang terbentang luas hampir tak terbatas, berlipat-lipat dan penuh rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka. Media yang sebelumnya telanjang kini berjilbab, lagu religi menghias tiap acara, warung makan yang dulu terbuka kini bertirai dan kemasan ramadan yang sejuk membungkus semua hal.

Masjid berubah menjadi pusat kegiatan masyarakat yang selalu ramai setiap waktu, kegiatan ibadah dan amalan lainnya bertaburan seperti bintang-bintang yang menyambut bulan purnama bersinar sempurna. Ramadan tanggal satu menyemburat sejak senja, masjid begitu meriah oleh banyaknya jamaah, penuh sampai meluap-luap. Putih, bersih dan sopan berduyun-duyun menyemut menuju pusat-pusat peribadatan. Kemeriahan dan keceriaan malam berpindah dari mall, tempat nongkrong, gardu ronda, pinggir-pinggir jalan, tempat main game, warnet, diskotik, atau rumah-rumah ke masjid-masjid yang bertabur cahaya.
Maghrib, Isyak , Shubuh, Dhuzur, Asar, dikelima waktu sholat itu, masjid ceria oleh ramainya barisan hamba-hamba yang bersujud. Mereka yang lama tak tersentuh air wudhu kini berbasah-basah di lima waktu. Lantunan Alquran dari masjid dan rumah menyeruak sepi dan menyusup pori-pori hari hampir sepanjang waktu. Sepertiga malam yang akhir semuanya bangun dan menghidupkannya dengan sahur dan amalan lain.

Setapak demi setapak perjalanan di bulan Ramadan berangsur mulai kelelahan, sebagian mulai berjatuhan tak lagi hadir di jamaah, sebagian lagi mulai lagi mengisi keheningan malam dengan nonton bola dan bergadang. Sebagian lagi sudah istirahat saja dirumah menunggu minggu terakhir Ramadan untuk kembali beraktifitas. Ketika perhitungan  sepuluh hari  terakhir di mulai, sebagian bergegas ke pasar-pasar untuk belanja keperluan lebaran, sebagian sibuk mengecat dinding rumah, membeli perabotan, dan mudik. Hingga hari terakhir Ramadan datang dalam sunyi, sebagian telah menunggu-nunggu berakhirnya bulan ini, dan menyambut dengan penuh rasa kemenangan Syawal yang segera terbit.

Sebulan berlalu dan bulan baru datang dalam Takbir. Syawal telah benar-benar hadir dan Ramadan hilang bersama senja tanggal satu. Di Shubuh tanggal satu Syawal, barisan jamaah tinggal puing-puing. Di Isya’ tanggal dua Syawal, yang tersisa hanya dua shof lengang di hamparan karpet yang meluas. Di Dzuhur tanggal tiga Syawal hanya berapa gelintir saja yang bersiap sedia dengan panggilan adzan. Seminggu setelah Iedul Fitri semua kembali seperti semula. Masjid-masjid kembali menjadi sepi, ditinggal umat berkutat dengan dunia. Takjilan anak-anak telah berganti dengan tayangan kartun dari asar hingga isyak. Alquran kembali disimpan, diganti nyanyian, canda, dan permainan. Jamaah Isyak memilih izin tidak hadir karena sinetron. Sepertiga malam bangun  hanya untuk nonton bola. Shubuh terlewat dalam kehangatan selimut dan menyerah pada dinginnya fajar. Nyaman dan hangatnya hari berlalu membawa semua hawa nafsu kembali menjadi raja. Anak-anak kembali ke sekolah, para orang tua kembali bekerja secara normal. Kehidupan berjalan seperti sedia kala.

Waktu akan mengambil perannya dalam proses seleksi, siapa yang akan membawa Ramadan sampai bertemu Ramadan tahun depan, ataukah akan kehilangannya bahkan di hari-hari awal bulan Syawal. Wallahu’alam

Tulisan terkait : Mozaik Syawal

Allah Memang Maha Adil

Pulang dari jamaah pagi tadi, aku mendapat petikan hikmah dari kalimat seseorang yang satu jalan menuju ke rumah. Dia adalah sosok ayah sederhana, seorang transmigran yang tinggal di Sumatra Selatan, masa lebaran ini dia mudik untuk bersilaturahmi dengan saudaranya disini.

Perjalanan satu hari satu malam dari Jogja ke Baturaja atau sebaliknya adalah hal yang telah berkali-kali ia lakukan, satu penggal kisah dalam menapaki tangga kehidupan. Membangun hidup di pulau yang lain, tentu bukanlah pilihan yang mudah pada awalnya, tapi seiring waktu hal itu telah menjadi bagian hidupnya dan ia menjalaninya dengan kesungguhan. Di tanah transmigran ia mendapatkan jatah lahan yang sekarang sudah menjadi kebun karet, tumpuan ekonomi yang selama ini telah ia geluti. Hidup sederhana dari awalnya kini sudah mulai menunjukkan perubahan yang berarti, bahkan ia sudah mampu membiayai putrinya untuk sekolah di Jogja. Dalam rangkai kisah itu ia menuturkan bahwa Allah memang Maha Adil, rezeki dibagi-bagi pada mahlukNya melalui banyak jalan, dimanapun orang ditakdirkan menjalanai kehidupan disanalah rezeki didapatkan.

Ada orang-orang yang berhasil membangun ekonomi di tanah kelahirannya, ada juga yang memilih berpindah tempat untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Dimanapun itu ketika usaha dan doa bersinergi maka kehidupan akan mendapatkan jalannya. Membentangkan kelapangan dan menuaikan hasil yang siap dipanen dihamparan padang dunia. Semoga kita selalu bisa menyadarinya dan menumbuhkan rasa syukur atas kehidupan yang kita jalani.

Malam-malam Terakhir

Malam TerakhirPijakkan kaki ini hampir runtuh, jatuh ke Syawal

Malam-malam terakhir yang menentukan, kembali dihitung seperti tahun-tahun lalu
Apakah aku menjadi bagian dari malam agung itu?
Atau sekali lagi hanya sekedar mendengar beritanya yang gegap gempita tapi tak pernah merasakannya?

Akankah aku terjaga dengan amalan yang mengantarkan pada kebaikan seribu bulan?

Jauh jarak dari segala pengharapan itu, hanya usaha dan doa yang mampu mendekatkannya, bukan hanya sekedar bicara dan rencana, tapi tindakan!

————————-

Rujukan : Ciri-ciri Malam lailatul Qodar

 

 

Pandangan yang salah, pendengaran yang menyimpang, ucapan yang buruk dan jiwa yang penuh gerutu. Rasanya bukan kemarin saja serial kesalahan ini dilakonkan, bahkan jika itu dibukukan butuh beribu-ribu lembar dan tak pernah cukup. Entah mengapa masih saja menyesak dayanya agar membuncah segala rasa, sayang bukan kebaikan tapi keburukan. Hitam hati terekam dalam jelaga, suntuk sang jiwa membakar-bakar baranya hingga yang terfitrah putih menjadi hitam pekat. Jika engkau bermohon, mohonlah padaNya untuk mengganti hatimu dengan yang baru.

Tidak risih bahkan menikmati, segala geliat hati yang menuju kuadran kegelapan diberi sokongan agar bertambah semangat dalam memperjuangkan kebatilan. Sementara niat kebaikan dipendam dalam-dalam agar tidak tumbuh berkembang. Lalu jiwa dan raga disiagakan agar ketika genderang perang melawan nafsu dibunyikan engkau siap berlari, untuk menghindarinya. Jika engkau menabur kebatilan tidak ada kebaikan yang akan kau tuai, apakah dikatakan panen jika engkau menderita kerugian?

Nikmatnya berkelana dibumiNya yang penuh kesenangan ini, hingga engkau  tak lagi melihat batas-batas yang akan mengakhirimu dari kesenanganmu itu. Kefanaannya masih dongeng semata, sementara kematian masih akan lama. “Jadi apa yang perlu aku khawatirkan?“.
Engkau tidak perlu khawatir, kecuali bahwa angan-anganmu itu fatamorgana belaka. Kefanaan adalah hak dunia dan isinya, lama dan sebentar itu relatif, dan kekekalan akhirat adalah keniscayaan. Bukankah bersiap-siap untuk yang kekal itu jauh lebih masuk akal?

Sekeping hati tertambat di belukar nafsu, engkau yang meletakkannya disana, menyiraminya tiap hari dan memupuknya hingga tumbuh berkembang, sayang tidak berbunga harum mewangi, tapi busuk dan berduri.

(kontlempasi hari ini, untuk diri)

Bulan, Gunung, dan Matahari

Masjid Rindu

Masjid yang dilupakan

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.