Sungguh Menyegarkan
Juni 9, 2009, 1:59 pm
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: hikmah, Istiqomah, Kehidupan, Kekeringan, kering, Kesegaran, Menyegarkan, Prinsip hidup, Segar, Sejuk
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: hikmah, Istiqomah, Kehidupan, Kekeringan, kering, Kesegaran, Menyegarkan, Prinsip hidup, Segar, Sejuk
Rahasia terungkap dengan perlahan, meski semesta tertangkup dalam diam, angin tak berbisik, dan lautan membisu, tiitik putih dalam belantara kepekatan hati telah mengadirkan jawabannya…
Terdamparnya engkau dinegeri manapun, di musim apapun, dicuaca bagaimanapun, dalam kekeringan paling sadis sepanjang hidupmu sekalipun, engkau tetaplah engkau, diri sendiri yang terlahir sendiri namun terfitrah sebagai mahluk paling tinggi yang tercipta. Engkau dikaruniai akal pikiran dan hati yang menjadikan eksistensimu tetap bertahan. Engkau dan seluruh dirimu adalah entitas hidup yang mempunyai daya cipta kreatifitas untuk mempertahankan kehidupan. Engkau adalah keunikan yang spesial, yang leluasa memilih respon apapun dari setiap kejadian dalam kehidupanmu.
Jika engkau mendapatimu disini, disebuah sistem hidup yang kering, jadikan itu ungkapan yang hilang dari kamus, tak bermakna dan khayal.
Berkelanalah dalam luasnya kehidupan dan bergembiralah dalam banyaknya pilihan respon yang dapat kau ambil. Engkau adalah raja dan pengambil keputusan yang mandiri, untuk apa tunduk pada situasi yang membuatmu menggelepar kepanasan jika engkau mampu menegakkan kepala dan berkata "Aku bebas memilih responku"
Jarum hidupmu bergerak maju dan tak pernah kembali, jalanmu yang panjang itu tak tahu kapan berakhir, jika engkau memilih untuk menyerah dan terpengaruh dengan lingkunganmu maka tak ada yang mampu ku ucapkan selain : "Selamat tinggal ". Tapi jika engkau memilih untuk istiqomah di jalanNya, lihatlah keluasan yang engkau dapatkan, kekeringan itu adalah fatamorgana belaka, dzikirmu adalah nafasmu yang tak terganggu sekalipun lebah berdengung mengitarimu, prinsip hidupmu adalah pegangan yang dapat kau andalkan saat tergoncang sensasi dalam pergaulan. Cerialah dengan setiap hikmah yang kau dapatkan hari ini, bergembiralah selalu dengan janjiNya, dan biarkan jiwamu mengembara tinggi terbang bebas menyentuh awan-awan. Sujudkan dirimu dalam rehat jiwa yang bersyukur, dan dapatkan dirimu bahagia.
Hidup adalah danua kesejukan yang mengalir kepadanya sungai-sungai harapan, sungguh menyegarkan…
6 Komentar
KERING!
Di kotak persegi panjang itu dia berdiri, duduk dan mondar-mandir seperti setrika. Mata di wajahnya yang sayu sok ramah itu seperti lampu 5 watt berkedip-kedip tidak jelas antara mau hidup atau mati saja. Kadang membaca buku dihadapannya atau mengamati sampulnya, memandang langit-langit dan mulai menghitung gentingnya, membolak- balik koran mencari gambar paling menarik, iklan henpon canggih tapi murah, nomer perdana cantik yang mungkin sama dengan tanggal lahirnya, atau berita sensasi yang sudah kedaluwarsa. Kadang di sudut ruang di depan komputer melihat rekannya bermain petak umpet dengan mesin pintar itu sambil mendengarkan nyanyian setan dari wali kubur, lalu balik ke sofa tamu sambil mengangkut segelas teh manis, berjalan bak peragawan melintas catwalk sambil bawa ember cucian, mengobrol kesana-kesini seperti tamu acara talkshow yang tergila-gila kamera, tertawa-tawa, meringis, nyengir kuda, atau senyum simpul bak perjaka kena setrum.
Pagi itu terlewat dan hilang dari masa, tak ada dzikir, tak ada Dhuha, tak ada lantunan ayat, tak ada renungan akhirat, tak ada dialog spiritual yang membangun jiwa…
Terkadang…
Dunia begitu diperjuangkan padahal dia akan hancur berantakan.
Akhirat begitu diabaikan padahal dia akan kekal selamanya
Dunia begitu diperjuangkan padahal dia akan hancur berantakan.
Akhirat begitu diabaikan padahal dia akan kekal selamanya
Terimakasih saudaraku…
"Some people say the happiness is the money..
Mei 30, 2009, 6:35 am
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: cinta, Persaudaraan, Persahabatan, Kebahagiaan, Saudara spiritual, Bahagia
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: cinta, Persaudaraan, Persahabatan, Kebahagiaan, Saudara spiritual, Bahagia
"Some people say the happiness is the money..other people say it’s the health..
the others say it’s the power..
but I say the real one is having you as my brother
"
"
pesan pendek ini meluncur dari saudara spiritualku, masuk ke handset-ku dengan satu kekuatan, kekuatan persaudaraan…
kebaikan yang terbawa dari sebuah jalinan adalah efek positif pertama yang dapat dirasakan mereka yang terlibat, sebelum kemudian dirasakan ini senyatanya adalah kebahagiaan itu.
kita bisa berbagi kebaikan, saling mengingatkan dalam kebaikan, saling menanyakan kabar ketika tidak terlihat di shof jamaah, membangunkan ketika malam hampir hilang, saling mendo’akan, saling menjenguk ketika sakit, saling share dalam banyak permasalahan, saling silaturahmi, saling membantu di berbagai kesempatan.
sesungguhnya hidup adalah untuk bermanfaat bagi orang lain, keluarga kita, saudara-saudara kita…
karena kebahagiaan itu tersimpan disana : dalam jalinan persaudaraan yang insyaAllah karenaNya
Terimakasih saudaraku…
Fawwaz Ahmad Mumtaza
Penantian berbulan-bulan itu sampai pada ujungnya, sebuah mahakarya penciptaan yang menakjubkan terlahir didunia, tangisnya menyeruak hening di sepertiga malam yang terakhir… Sosok yang tercipta atas kuasaNya dari sari pati air yang hina, terpelihara dalam rahim yang kokoh selama waktu yang telah ditentukan, berproses secara teratur dari sesuatu yang lain menjadi wujud yang lain lagi dan bertumbuh dalam desain yang luar biasa.
April 28, 2009, 2:45 am
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: 2.45 WIB, 28 April 2009, 3.4 kg, 49 cm, Ahmad, excelent, Fawwaz, Fawwaz Ahmad Mumtaza, keberuntungan yang banyak, Kesuksesan, Mumtaza, Selasa Legi, sholeh, terpuji
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: 2.45 WIB, 28 April 2009, 3.4 kg, 49 cm, Ahmad, excelent, Fawwaz, Fawwaz Ahmad Mumtaza, keberuntungan yang banyak, Kesuksesan, Mumtaza, Selasa Legi, sholeh, terpuji
Penantian berbulan-bulan itu sampai pada ujungnya, sebuah mahakarya penciptaan yang menakjubkan terlahir didunia, tangisnya menyeruak hening di sepertiga malam yang terakhir… Sosok yang tercipta atas kuasaNya dari sari pati air yang hina, terpelihara dalam rahim yang kokoh selama waktu yang telah ditentukan, berproses secara teratur dari sesuatu yang lain menjadi wujud yang lain lagi dan bertumbuh dalam desain yang luar biasa.Segala yang terjadi selama masa penantian itu ternyata adalah ujianNya yang nyata untuk menguji apakah akan menjadi hamba yang bersyukur ataukah kufur.
Perjuangan hidup mati selama berjam-jam berakhir kemenangan, satu mahluk baru mungil menatap dunia, mengabarkan banyak harapan masa depan dan menitipkan amanah yang wajib dipertanggungjawabkan bagi para pengembannya. Prosesnya begitu heroik, dramatis dan sarat hikmah, disaat-saat ketika rasa sakit hampir tak tertanggungkan, kekuatan hampir saja tak daya lagi, disaat itulah kuasaNya sungguh mutlak terasa, betapa tak ada kekuatan sedikitpun mahluk menentukan detik perjalanan hidupnya.
Dia yang menentukan segala-galanya, yang menyembuhkan dan memudahkan, yang memberi kekuatan bagi hambaNya.
Alhamdulillah.. puji syukur padaMu ya Allah.. untuk karuniaMu ini, amanah yang membuat setiap adam merasa ada, kebanggaan bagi hawa telah terpilih menjadi bagian dari kuasa penciptaan yang dasyat. Semoga menjadi hambaNya yang banyak keberuntungan dan kesuksesan di dunia dan akhirat, menjadi umat Nabi Muhammad SAW yang terpuji akhlaknya, sholeh dan berguna dalam segala kebaikan. Amin.
Adakah ia untukku juga?
Pagi menyemburat dalam kuning kemerahan, langit terasa hangat. Bulan tanggal setengah tertinggal di awan, terlambat masuk ke peraduan dan rela terpanggang matahari pagi yang memudarkan sinarnya, hingga jadi bongkahan pucat yang makin tersamar.
April 1, 2009, 6:03 am
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: hikmah, Kagum, Pagi, Perjalanan, Sempurna, Surga
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: hikmah, Kagum, Pagi, Perjalanan, Sempurna, Surga
Pagi menyemburat dalam kuning kemerahan, langit terasa hangat. Bulan tanggal setengah tertinggal di awan, terlambat masuk ke peraduan dan rela terpanggang matahari pagi yang memudarkan sinarnya, hingga jadi bongkahan pucat yang makin tersamar.di jembatan itu aku melambatkan laju motorku, 60km perjam cukuplah…
Pandanganku membabat habis lanskap jelita dikanannya : sebuah goresan hijau tersaput lembut kabut putih tipis, sungai yang bening berkelok dengan tekstur bebatuan hitam keras tersembul disana sini. Background lereng lereng bersih hijau gelap kebiruan, Dua gunung mencuat perkasa menembus lukisan langit dan menancapkan puncaknya di pelukan awan. Disebalah kiri jejalan pegunungan tersamar dalam selaput tipis putih, hamparan hijau malu-malu terbangun dari tidur, sebuah keluasan yang tanpa batas dan keberlimpahan yang menata dalam ruang bumi maha luas, subhanallah…
Hanya kurang dari 20 detik saja, aku melintas jembatan itu : tiap hari.
Diantara kecepatan keterburuan atau kesempitan waktu yang menghimpit di 20 detik perlintasan itu, begitu banyak kelapangan yeng tergambar tergoreskan sempurna, karya keperkasaan sang Kholiq.
Jikalau tergelar dihadapan mata : ukiran sempurna itu : warna-warna, tatanan kedasyatan penciptaan ini sungguh luar biasa.. decak kagum tak cukup melukiskannya, ribuan keindahan dan keindahan, keindahan dan lagi.. keindahan..
Aku jadi teringat surga :
satu titik akhir dalam kehidupan, surga yang seluas langit dan bumi…
keindahannya tak terbayangkan, belum pernah terlihat, belum pernah terdengar, belum pernah terkecap, belum pernah tercium, bahkan belum pernah terbersit dalam bayangan…
keindahan yang tak terlukiskan, kenyamanan tak tertandingi dalam kekekalan
surga itu…
adakah ia untukku juga?
Menghidupkan Kembali Hati yang Mati
Aku bergerak di semenanjung harapan yang teronggok masgul diujung daratan, buah mimpi yang tergeletak mengurai kusut jalinan langkah yang tertempuh
Maret 9, 2009, 7:03 am
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: Aib diri, cinta, harapan, Hati, Hidup, Kembali, Mati, Palsu
Diarsipkan di bawah: hikmah | Tag: Aib diri, cinta, harapan, Hati, Hidup, Kembali, Mati, Palsu
Aku bergerak di semenanjung harapan yang teronggok masgul diujung daratan, buah mimpi yang tergeletak mengurai kusut jalinan langkah yang tertempuhkesadaran dari ilusi panjang terasa menyeretku menjauh dari pusaran cinta sang Penguasa, rasanya : tidak ada lagi gemercik embun membasahi pipi ini selama masa-masaku kini, era ketundukan itu telah lewat, berlalu seperti hembusan angin dipadang gersang, membawa tiap tetes terakhirnya menuju ketiadaan …
Apakah aku telah mengukir cintaNya dalam hatiku dan menjadikannya monumen yang mengekal dalam hidupku?
apakah aku telah menanam syariatNya dalam tiap lahan perjalananku dan menumbuhkannya menjadi hamparan hijau ketaatan tanpa satupun hama dosa sanggup hinggap merugikannya?
apakah aku telah mendapatkan semua yang aku inginkan melalui do’a-do’aku dan menjadikannya sebuah keberuntungan yang terwujud tanpa satupun meleset dari perkiraan hingga tak ada lagi kekhawatiran antara aku dengan Tuhanku?
Sungguh kurang ajar! : konspirasi mahluk dan hawa nafsunya telah menjadikannya pembantah yang nyata, mengikuti keinginan melebihi kebutuhan, memasuki dimensi keterbebasan dalam syariat yang menuntut pertanggungjawaban..
akal licikkah ini? sebuah trik berbelok dari jalan yang lurus untuk sebuah rihlah jiwa dalam lembah ketidaktaatan…
memalukan…kepalsuan besar dibungkus kemasan paling elegan, drama topeng diatas panggung sandiwara melakonkan kisah kemalasan dan kesia-siaan dan berharap happy ending..
realitas semu di altar kepalsuan para penyembah hawa nafsu, tak lebih sebuah onggokan daging busuk menunggu dilempar ke mulut srigala.
ketercapaian seperti prestasi di puncak tertinggi, berbangga diri membusung dada sepanjang arena, syukur lisannya telah melegitimasi keberhasilannya adalah karena usahanya, bukan karena kehendakNya..
padahal disana… didalamya.. diantara nafsu yang membelitnya : ada jiwa yang kering sedang meronta butuh air, gemertak kegersangannya mengepulkan hawa panas, terasa berdenyut tak henti sampai ke ubun-ubun. hati yang hitam legam karena kemaksiatan, tak lagi mampu menerima cahaya kebenaran meski kepala mengangguk-angguk seribu kali…
Naif!
jiwa itu memenjarakan dirinya dalam rutinitas yang makin kering, keindahannya hanya ada ketika fajar dan lenyap bersama naiknya sang mentari ke penggalan hari. langkahnya gontai disapu angin sepi, diperjalanan kemarau paling terik, menuju sebuah titik lontar : langsung ke neraka….
Astagfirullahal’adhim…
seribu cermin tak kan mampu membuka aib diri, gajah dipelupuk matapun tak akan pernah tampak ….
Rabb… tak ada dariku keterlepasan pada kebutuhan akan cintaMu, seperti mahluk daratan butuh udara untuk bernafas, mutlak! alangkah indahnya hari ketika rajutan cinta itu bergelayut memanjang dan makin rapat, tak satupun celah memungkinkan untuk berlalunya detik tanpa cintaMu, karena Engkau adalah segala-galanya yang menjalinkan cinta dalam pergerakan semesta. tapi mengapa seribu hujan tergores di lembar kehidupan berlalu saja… dan aku masih kekeringan…
Rabb… aku ingin hujan itu membuatku terbangun dari keterlenaan ini…
menyegarkanku, menghidupkan kembali hati yang mati…
